babak baru strategi konten

TL;DR TL;DW – Babak Baru Strategi Konten

Bismillah…

TL;DR (too long; didn’t read) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah tulisan yang terlalu panjang, sehingga tidak dibaca.

TL;DW (too long; didn’t watch) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah video yang terlalu panjang durasinya, sehingga tidak ditonton.

Biasanya, saat sesuatu sering ditemukan atau digunakan berulang-ulang, maka akan muncul sebuah istilah untuk menjelaskannya dengan cepat.

Jadi, pertanyaannya:

Seberapa sering ini terjadi di masyarakat hingga ada istilah yang digunakan khusus untuk menggambarkannya?

Apakah masyarakat saat ini begitu tidak inginnya membaca dan menonton video yang durasinya panjang walaupun mungkin akan bermanfaat bagi dirinya?

Apakah kehidupan yang berjalan begitu cepat membuat kita tidak lagi bisa memblokir waktu untuk membaca? Untuk belajar?

Saya tidak menulis ini untuk mencari tahu apa penyebabnya. Pertanyaan diatas jika diteruskan, akan bisa panjang sekali. Namun, apa manfaatnya?

Jikapun kita tahu apa yang menyebabkan sesuatu menjadi trend, menurut saya, perubahan trend seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan.

Jadi ya seperti kata pebisnis muda di Bandung: Lemesin aja.

Jadi apa yang sebaiknya sebuah bisnis lakukan? Jawabnya: Memilih respon yang tepat.

Jadi, apa respon yang tepat dari sini?

Jawabannya:

Memilih channel atau saluran pemasaran baru baru bagi perusahaan Anda yang akan bisa beradaptasi dengan trend pasar kedepannya.

Pertanyaan selanjutnya, apa saluran pemasaran itu?

Menurut saya ada 3 saluran yang sangat sesuai, dan mungkin Anda bisa mulai menginvestasikan waktu dan budget ke saluran-saluran baru ini.

Saluran Pemasaran Pertama: Tiktok.

Saya tidak memiliki akun Tiktok hingga saat ini, namun Tiktok adalah platform atau layanan yang cocok sekali untuk merespon TL;DW di atas.

Tidak ada video panjang di sini, tidak ada konten yang berat-berat.

Saya belum menemukan manfaatnya dari konten-konten di Tiktok hingga saat ini dan belum menemukan alasan untuk mencoba Tiktok.

Namun sudah cukup banyak bisnis yang terjun dan mencoba beriklan di Tiktok dikarenakan dashboard iklannya yang cukup familiar.

Namun, dengan jumlah pengguna aktif yang mencapai 500 juta dari seluruh dunia, Tiktok mulai menyebar dan menjadi populer di Indonesia.

Dan jika target pasar Anda berada diantara usia 16-24 tahun, mungkin memang Anda bisa mulai mencoba masuk ke Tiktok.

Saluran Pemasaran Kedua: Podcast.

Pada tahun 2019, kita melihat sendiri pertumbuhan yang luar biasa dari podcast di Indonesia.

Dalam satu tahun, pertumbuhan podcast-podcast baru di Indonesaia sangat luar biasa, dari mulai yang menghibur hingga cerita horor.

Hal sebelumnya pernah saya bahas di sini.

Ada banyak faktor pendukung untuk podcast akan semakin meledak di Indonesia, kondisinya sangat mendukung.

Kondisi ini saya bagi menjadi beberapa bagian:

Kondisi Lingkungan

Kemacetan yang terus semakin bertambah di Indonesia, membuat lahan subur untuk bertumbuhnya podcast. Saat ini seseorang semakin mudah untuk memilih mendengarkan apapun yang ia mau, salah satunya untuk “hiburan” dalam bentuk berbeda.

“Hiburan” ini bisa jadi berbentuk cerita horor, hingga belajar bisnis melalui podcast. Dan podcast adalah satu-satunya media yang bisa dikonsumsi saat macet.

Sebagus apapun video Anda tidak akan bisa ditonton saat seseorang sedang menyetir ditengah kemacetan.

Hardware

Kondisi kedua yang mendukung meledaknya podcast di Indonesia adalah: Hardware.

Adalah Airpods dari Apple yang memulai trend True Wireless Earphone atau True Wireless Earbuds. Biasa disingkat TWE.

Sebuah perangkat audio berukuran cukup kecil yang bisa melekat di telinga tanpa kabel.

Sekilas, TWE ini mirip earphone biasa, hanya kabel nya saja yang hilang, namun ternyata jauh lebih dari itu.

Sejak munculnya AirPods dan kemudian AirPods Pro di 2019, earphone bukan lagi hanya untuk mendengar sesuatu. Perkembangan teknologi telah memungkinkan TWE memiliki chip yang canggih didalamnya.

Chip ini, bisa mengatur banyak hal, darimulai manajemen energi (baterai), mendeteksi apakah TWE sedang dipasang di telinga atau tidak, hingga melakukan suatu komputasi atau perhitungan sederhana. Chip inilah yang memberikan banyak sekali kelebihan untuk TWE.

Kelebihan pertama: Baterai yang tahan lama. Dengan baterai yang bertahan seharian, membuat seseorang bisa mendengarkan apapun yang ia mau, dari pagi hingga sore hari, non-stop.

Inilah yang membuat podcast bisa menjadi channel alternatif untuk memasarkan produk Anda. Durasi podcast yang panjang, kini bukan lagi masalah.

Kelebihan kedua, dengan AirPods dan TWE lain, Anda bisa “memanggil” asisten pribadi digital seperti Siri, atau Google Assistant. Anda tidak perlu lagi mengetik untuk mencari sesuatu, atau meminta petunjuk arah, atau menanyakan sesuatu. Cukup berbicara saja.

Kelebihan ketiga, dan yang paling penting: Yang disebut dengan social signal.

Atau mungkin di Indonesia sering disebut: Status sosial.

AirPods dan beberapa TWE merek lain, tidaklah murah. Jika dirupiahkan, dulu saat peluncuranya, harga AirPods bisa mencapai Rp.2.500.000.-

Padahal, kualitas suara yang dihasilkan mungkin biasa saja.

Untuk harga segitu, kita bisa mendapatkan headphone professional, studio-grade, yang banyak digunakan di studio rekaman professional. Kualitas suaranya jelas siang dan malam bedanya.

Tapi ya lagi, orang memberli AirPods, salah satunya, untuk status sosial, bukan kualitas suara.

Keterlihatan AirPods juga luar biasa, dengan desain yang menjuntai keluar dari telinga seseorang, sulit untuk tidak terlihat. Dan menandakan orang tersebut kemungkinan memiliki perangkat Apple lain di saku celananya, yang harganya premium juga.

Biasanya AirPods dikombinasikan dengan Apple Watch untuk mengatur suara yang muncul, dan keduanya dihubungkan ke iPhone. Jika digabungkan, akumulasi nilai ketiga perangkat itu bisa bernilai lebih dari Rp.20.000.000.-

Intinya, mengenakan AirPods di tempat umum seperti mengumumkan jika seseorang itu mampu secara ekonomi.

Tentu saja, tidak semua orang seperti itu. Bagaimanapun AirPods memiliki fungsi yang luar biasa jika Anda “hidup dalam ekosistem” Apple.

Jadi, bagaimana dengan penjualannya?

AirPods merupakan produk terlaris kedua dari Apple sejak diluncurkan, dan merupakan produk dengan pertumbuhan penjualan terpesat dari semua lini produk Apple. Dan saat ini pemegang porsi pasar terbesar di dunia untuk TWE.

Permintaan pasar pun terlihat tinggi sekali, terutama saat liburan.

Melihat trend diatas, sepertinya, tahun ini dan tahun-tahun kedepan, kita akan memasuki era revolusi audio on-demand.

Pemilik merek tidak hanya harus memikirkan bagaimana mereknya terlihat, tapi bagaimana merek itu “terdengar”.

Software

Selain hardware, tentu saja ada software yang mendukung dibelakangnya.

Meningkatnya popularitas Spotify di Indonesia 1 tahun kemarin, menjadi pelengkap dari keseluruhan badai revolusi saluran pemasaran ini.

Smartphone dengan baterai yang tahan seharian, koneksi internet cepat yang semakin murah dan mudah, TWE dan lapisan aplikasi yang mendukungnya.

Selain platform layanan audio seperti Spotify, banyak juga aplikasi atau software lain yang memanfaatkan TWE sebagai bagian dari fitur software tersebut, seperti:

  • Layanan real-time translate langsung ke TWE, dimana bahasa asing langsung bisa diterjemahkan ke telinga Anda seperti yang dibuat oleh Waverly Labs.
  • Aplikasi yang bisa memanfaatkan sensor biometric untuk membaca detak jantung seperti Samsung Galaxy Buds atau Gear Icon.
  • Lebih produktif karena artinya sekarang bisa rekaman podcast dan telepon/ video call tanpa kesulitan mendengar karena suaranya langsung dikirim ke TWE.
  • Dan tentu saja asisten pribadi seperti Siri dan Google Assistant.

Karenanya, melihat temuan dan trend ini, adalah bijak jika Anda, sekarang juga, memulai podcast.

Jangan tunggu lagi, rekam suara Anda dengan apapun yang Anda bisa, dan mulailah membuat podcast secara rutin.

Saluran Pemasaran Ketiga: Email Newsletter

Email Newsletter juga menggebrak kembali di 2019 dan akan semakin membesar di tahun-tahun mendatang.

Apa yang terjadi?

Lagi, TL;DR, too long didn’t read. Email newsletter yang menjadi populer belakangan ini adalah yang isinya merangkum berita apa yang terjadi atau yang sedang marak saat ini. Namun dikemas ulang dengan “bahasa manusia” yang lebih mudah dimengerti.

Ibarat ada yang merangkum berita dari berbagai sumber untuk Anda, lalu merangkumnya dalam selembar kertas, kemudian dikirimkan ke Anda.

Beritanya menjadi mudah untuk di “scan” oleh mata manusia, bukan untuk dibaca.

Ledakan email newsletter kurasi berita seperti ini dimulai kembali oleh The Skimm di Amerika, platform email newsletter yang direkomendasikan oleh Oprah Winfrey.

Setelah itu, muncul email newsletter populer lain seperti Morning Brew, hingga yang rada teknis seperti Hacker Newsletter.

Temanya semua hampir sama. Apa yang baru? Kenapa ini penting? Dan apa persisnya yang terjadi?

Semua dirangkum, dan dijelaskan dengan mudah dan ringkas.

Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa media newsletter seperti Catch Me Up, atau Talk Digital Newsletter, yang memodel pola merangkum berita seperti diatas.

Saya pribadi adalah penggemar email newsletter sejak lama. Sangat nyaman menerima berita terbaru, langsung di email saya setiap hari, dan mendapatkan wawasan baru tentang apa yang terjadi.

Email newsletter menurut saya juga akan booming lagi di Indonesia dalam 1-2 tahun kedepan. Lagi, nyaman dan cocok dengan karakteristik orang Indonesia yang suka apa-apa diurusin oleh orang lain.

Belum ada kenyamanan mengkonsumsi berita seperti email newsletter yang langsung dihantarkan ke Anda.

Lagi, Anda bisa mulai memiliki email newsletter sekarang juga. Buat email newsletter Anda dengan KIRIM.EMAIL.

Setelah Ini Apa?

Kita bisa menganalisa dan mendiskusikan trend sampai lidah kita tergigit dan berdarah. Namun jika kita tidak bertindak, maka hasilnya akan sama saja.

Saya petik nasihat dari Aa Gym: Mulai dari diri sendiri, mulai dengan apa yang ada, dan mulai sekarang.

Pilih satu dari 3 channel baru diatas yang menurut Anda target pasar Anda akan berterima kasih jika Anda berada disana. Fokus dan besarkan, dan bangun audiens yang bisa menikmati yang Anda lakukan seperti Anda menikmatinya.

Mulai sekarang, karena salah dua musuh pengusaha adalah tapi dan nanti.

Sampai ketemu di artikel selanjutnya, insyaAllah…

-Fikry

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments