Terbaik di 2019 - KIRIM.EMAIL

Terbaik Di 2019

Bismillah…

Alhamdulillah kita panjang umur hingga akhir 2019. Masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri dan beribadah melalui usaha-usaha kita.

Seperti biasa, setiap tahun, saya akan membagikan buku, video, podcast, aplikasi dan hal-hal lain yang saya rasakan manfaatnya selama 1 tahun ini.

Semoga Anda juga bisa merasakan manfaat dari semua ini seperti saya.

Sebelum kita mulai.

Anda bisa melihat daftar yang terbaik di 2017 di sini.

Dan yang terbaik dari 2018 di sini

Kita mulai daftar dari tahun ini.

Buku

Atomic Habits

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

A post shared by Fikry Fatullah (@fikryfatullah) on

Ini mungkin buku terbaik yang saya baca tentang habits dalam beberapa tahun. Saya hingga membacanya 2 kali tahun ini, sampul ke sampul.

Bukan cuma bahas why atau what-nya saja tapi juga bahas how-nya. Buku ini sesuai janji yang tertulis di cover-nya.

Ada kutipan yg bagus:

“Sukses itu bukan goal yang harus dicapai atau garis finish yang harus dilewati. Tapi merupakan sebuah sistem yang harus diimprove (tingkatkan) dan diperbaiki prosesnya terus menerus.”

Perubahan kebiasaan (habit) bukan hanya masalah kekuatan tekad, tapi juga bagaimana membuat perubahan sistemis dari mulai pengkondisian lingkungan, sampai bagaimana kita mengukur (tracking) perubahan kebiasaan kita.

Sangat saya rekomendasikan.

Visual MBA

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

A post shared by Fikry Fatullah (@fikryfatullah) on

Ini mungkin buku yang judulnya ada “MBA” nya yang paling mudah untuk saya baca dan pahami.

Sebagian besar buku ini isinya ilustrasi. Kebanyakan buku bisnis lain yang bergambar itu hanya biar bukunya menarik, kadang gambarnya tidak relevan dengan isinya. Banyakan hanya mendistraksi.

Buku ini bener-bener menjelaskan dengan gambar.

Jadi si penulis (Jason Barron) mengikuti kuliah MBA selama 2 tahun. Ia lalu mencatat mayoritas seluruh kuliah di sana menggunakan teknik yang bernama Sketchnote, yang dipopulerkan oleh Mike Rohde.

Sketchnote itu sendiri bisa diartikan taking note with sketch. Artinya mencatat sesuatu dengan menggambar.

Jadilah buku ini berisi gambar yang dilengkapi tulisan, jadi bukan sebaliknya. Gambarnya lah justru yang berperan besar menjelaskan konsep-konsep dalam kuliah MBA-nya.

Jadinya, yang tadinya beberapa konsep yang saya abaikan/saya tidak pahami dari buku lain, sekarang lebih mudah mengerti.

Amazing Decisions

Buku ini bercerita tentang Adam, seorang pria pekerja yang (mungkin seperti kita) harus mengambil banyak keputusan dalam hidupnya setiap hari.

Dari mulai keputusan yang ringan misalnya: Mau memberikan hadiah apa.

Hingga keputusan yang berat seperti memecat.

Semua digambarkan dengan ilustrasi.

Walaupun menurut saya isinya sangat basic dan bisa dengan mudah Anda temui di tempat lain, penyampaian buku ini sangat menarik dan mudah dimengerti.

Super Thinking

Buku yang berisi ratusan jalan pintas untuk memahami sesuatu yang disebut dengan mental model.

Penerapannya sangat aplikatif karena disertai banyak sekali contoh. Buku ini bukan buku yang bisa habis dalam sekali baca. Namun lebih ke buku referensi dimana kita akan selalu kembali ke buku ini kalau menemukan sebuah masalah spesifik, terutama dalam bisnis.

Membacanya juga tidak harus berurutan, tergantung konteks kita ingin memahami apa saat itu.

Ada lebih dari 300 mental model di dalam buku ini. Awalnya mungkin terlihat banyak. Namun buku ini bisa menjelaskan garis besarnya dengan baik sehingga mudah untuk dipahami.

Inspired

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

A post shared by Fikry Fatullah (@fikryfatullah) on

Saya bukan orang “produk” dan belum gitu paham product strategy. Terutama produk teknologi seperti software.

Namun, tahun ini saya memutuskan ingin mempelajari lebih dalam tentang strategi produk.

Saya mengikuti beberapa kursus online tentang strategi produk dan dari beberapa yang saya ikuti, benang merahnya ada di dalam buku ini.

Banyak yang rekomendasikan buku ini, tapi saya baru mendapatkan bukunya. Selama ini strategi produk yang saya lakukan hanya mempelajari feedback user, dan memperhatikan penggunaan di lapangan.

Ternyata banyak lagi metode lain. Terutama dalam mencari apa yang tidak bisa kita ketahui.

Buku ini menjelaskan dalam bahasa manusia. Cocok buat tidak memiliki latar belakang coding seperti saya.

Age Of Surveillance Capitalism

View this post on Instagram

Awalnya saya pikir Surveillance Capitalism adalah bentuk lain dari kapitalisme. Ternyata membandingkan Surveillance Capitalism dengan pemahaman kapitalisme dari jaman Adam Smith (dan yang mungkin masih banyak dipahami orang saat ini, terutama orang Indonesia), itu kaya memahami kereta kuda VS mobil dengan mesin V8. Kerangka berpikir kita bukan kurang lebar, kerangka berpikirnya salah sama sekali. Harus dihancurkan dulu. Era Revolusi Industri yang mendorong kapitalisme memiliki efek samping berupa kerusakan alam dan mungkin terbentuk nya kesenjangan sosial yang parah. Ini karena bahan baku pendorong Revolusi Industri itu banyak dari alam, dan manusia digunakan untuk mengeluarkan kekayaan alam. Nah, efek samping Suerveillance Capitalism itu adalah kehancuran tatanan social di masyarakat itu sendiri. Karena bahan mentahnya adalah kita, manusia, dan adalah platform teknologi yang sekarang digunakan untuk mengolah "bahan mentah" itu untuk keuntungan ekonomi. Profit. Saat ini, belum ada ditemukan istilah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kerangkanya. Saat ini pemahaman kita menilai Surveillance Capitalism itu seperti melihat tubuh dengan mesin X-Ray, kita bisa melihat tulangnya, tapi daging, otot dan jaringan lain yang beneran kerja itu ga keliatan. Akhirnya kita menggunakan kata-kata yang kita pahami seperti "monopoli", atau "privacy", untuk menjelaskan sesuatu yang sama sekali baru, dan tidak kita pahami. Padahal yang terjadi sekarang sudah tidak berada dalam kerangka yang sama dengan "monopoli" lagi. Buku ini dengan baik menjelaskan kerangka baru ini. Baru baca sekitar hampir sepertiganya, tapi ga bisa berhenti. Saran saya baca buku ini jika ingin memahami apa yang terjadi sekarang, dan apa yang membuat kita tidak mau "membunuh" parasit yang saat ini lagi gigit tangan kita dan menyedot darah kita. Sebaliknya, kita malah senang menggunakan parasit itu. Pun begitu, namanya sistem buatan manusia, tetap tidak sempurna, dan buku ini menggambarkan bagaimana kita bisa melawan sang "puppet master", bukan melawan puppet yang koar-koar di socmed. Ga ada manfaatnya.

A post shared by Fikry Fatullah (@fikryfatullah) on

Awalnya saya pikir Surveillance Capitalism adalah bentuk lain dari kapitalisme.

Ternyata membandingkan Surveillance Capitalism dengan pemahaman kapitalisme dari jaman Adam Smith (dan yang mungkin masih banyak dipahami orang saat ini, terutama orang Indonesia), itu kaya memahami kereta kuda VS mobil dengan mesin V8.

Kerangka berpikir kita bukan kurang lebar, kerangka berpikirnya salah sama sekali. Harus dihancurkan dulu.

Era Revolusi Industri yang mendorong kapitalisme memiliki efek samping berupa kerusakan alam dan mungkin terbentuk nya kesenjangan sosial yang parah.

Ini karena bahan baku pendorong Revolusi Industri itu banyak dari alam, dan manusia digunakan untuk mengeluarkan kekayaan alam.

Nah, efek samping Surveillance Capitalism itu adalah kehancuran tatanan sosial di masyarakat itu sendiri. Karena bahan mentahnya adalah kita, manusia, dan adalah platform teknologi yang sekarang digunakan untuk mengolah “bahan mentah” itu untuk keuntungan ekonomi. Profit.

Saat ini, belum ada ditemukan istilah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kerangkanya. Saat ini pemahaman kita menilai Surveillance Capitalism itu seperti melihat tubuh dengan mesin X-Ray, kita bisa melihat tulangnya, tapi daging, otot dan jaringan lain yang beneran kerja itu gak keliatan.

Akhirnya kita menggunakan kata-kata yang kita pahami seperti “monopoli“, atau “privacy“, untuk menjelaskan sesuatu yang sama sekali baru, dan tidak kita pahami. Padahal yang terjadi sekarang sudah tidak berada dalam kerangka yang sama dengan “monopoli” lagi.

Buku ini dengan baik menjelaskan kerangka baru ini.

Baru baca sekitar hampir sepertiganya, tapi gak bisa berhenti. Saran saya baca buku ini jika ingin memahami apa yang terjadi sekarang dan apa yang membuat kita tidak mau “membunuh” parasit yang saat ini lagi gigit tangan kita dan menyedot darah kita. Sebaliknya, kita malah senang menggunakan parasit itu.

Pun begitu, namanya sistem buatan manusia, tetap tidak sempurna, dan buku ini menggambarkan bagaimana kita bisa melawan sang “puppet master”, bukan melawan puppet-nya.

Visual Intelegence

Dari buku ini saya belajar bahwa, mata bukanlah “hanya” organ yang mengirimkan sinyal tampilan visual ke otak. Namun mata merupakan “otak kecil” yang berdiri sendiri, dan memproses banyak hal sebelum dikirim ke otak.

Bayangkan sebuah komputer yang memiliki prosesor (otak), maka mata adalah co-processor atau prosesor pendamping prosesor utama.

Dan mata, terutama kepekaan dalam mengamati adalah salah satu “senjata” yang paling jarang dibahas dalam dunia desain, terutama desain produk.

Buku ini cocok untuk membuat kita lebih peka dan latihan memperhatikan yang sebelumnya mungkin sering kita abaikan.

Testing Business Ideas

Buku terbaru dari Strategyzer, perusahaan dibelakang tools bisnis yang hampir selalu saya gunakan seperti: Value Proposition Canvas, atau Business Model Canvas.

Kali ini lebih ke ujicoba bagaimana jika kita memiliki ide bisnis atau poduk, dan ingin mengetahui apakah ide tersebut bisa diterima pasar atau tidak, dengan minim atau tanpa biaya.

Lagi, sebenarnya tidak ada yang baru didalam materinya, namun bagaimana buku ini dikemas secara visual, dan penjelasan yang mudah dimenengerti, menjadikan buku ini sebuah petunjuk yang bagus, terutama untuk yang masih asing dengan dunia eksperimental produk seperti MVP, dll.

Hit Refresh

Mungkin kisah transformasi Microsoft adalah kisah transformasi bisnis terbesar dalam 10 tahun ini.

Bagaimana seorang Satya Nadella, bisa dengan cepat mengubah perusahaan raksasa seperti itu. Berubah dari perusahaan yang kaku dan hampir selalu tertinggal trend menjadi perusahaan yang lebih fleksibel.

Buku ini banyak bercerita tentang perjalanannya mengubah kultur perusahaan, hingga mengubah model bisnis Microsoft. Ia menghancurkan dinding-dinding yang sudah berdiri kokoh sejak lama, seperti menunjukkan secara terang-terangan kalau ia menggunakan iPhone dan bekerjasama dengan Apple dan Google secara langsung. Bahkan dengan Linux!

Sesuatu yang belum pernah terjadi di Microsoft sebelumnya.

Buku ini tidak untuk semua orang, namun sosok Satya yang rendah hati namun berhasil mengubah arah kapal raksasa ini sangat menarik untuk saya.

The Greatest Business Decisions Of All Time

Sesuai judulnya, buku ini adalah kumpulan kisah keputusan bisnis terbaik sepanjang masa.

Dibuka dengan kisah kembalinya Steve Jobs ke Apple (yang terbukti merupakan keputusan tepat), hingga kisah-kisah dramatis lain.

Namun yang paling menarik untuk saya adalah: Think week.

Dari buku ini saya pertama kali mengetahui kalau Bill Gates itu, menyendiri selama 2 minggu dalam setahun, hampir selama ia menjabat sebagai CEO Microsoft.

Selama 2 minggu itu, ia benar-benar sendirian, terputus dari dunia luar. Satu-satunya cara untuk menghubunginya adalah dengan surat atau melalui istrinya: Melinda.

Lagi, buku ini tidak untuk semua orang dan jangan berharap ada studi kasus mendetail di dalamnya.

Hampir semuanya hanya cerita inspiratif namun dikemas dengan sangat bagus dan menarik.

Shape Up

Buku ini bukan “buku beneran” melainkan “buku” yang berbentuk web dan buku ini gratis.

Tahun ini saya memang ingin banyak mempelajari mengenai produk, terutama software/ aplikasi. Bagaimana produk strateginya, bagaimana proses pengambilan keputusan tentang sebuah fitur dalam satu produk, siapa yang akan menggunakan produk ini, dll.

Buku ini sangat saya rekomendasikan jika Anda ingin mempelajari bagaimana proses sebuah produk software dari mulai didiskusikan, hingga diluncurkan.

Baca bukunya di sini

Obviously Awesome

Buku ini menyambung tema “produk” yang saya pelajari sepanjang tahun ini. Namun perbedaan mencoloknya adalah, buku ini membahas product positioning, atau dimana produk kita berada di benak pengguna/ masyarakat.

Banyak sekali catatan pribadi saya setelah membaca buku ini, walaupun di dalamnya tidak ada yang benar-benar “baru”, namun kerangka dan proses positioning yang ditawarkan di dalam buku ini langsung “klik” ke saya.

Perspektif yang segar untuk tema positioning menurut saya, dan cocok sekali untuk diterapkan di era digital seperti saat ini.

How To

Awalnya nonton video Michel Bierut di TED tentang ceritanya mendesain logo perpustakaan. Jadi penasaran dan akhirnya mulai hunting buku ini.

Sangat saya rekomendasikan untuk yang ingin paham bagaimana penerapan desain dan komunikasi visual di dunia nyata.

Jangan harap ada tutorial step by step. Hampir semuanya studi kasus.


Podcast

Podcast ini berawal dari rangkaian tweet @naval yang kemudian menjadi viral.

Rangkaian tweet ini membahas tentang bagaimana menjadi kaya, namun dalam prosesnya, banyak prinsip-prinsip lain yang bisa diterapkan ke bisnis, maupun aspek lain dalam kehidupan.

Podcast ini membahas poin per poin apa yang dimaksud Naval dalam rangkaian tweet tersebut.

Mohon dengarkan podcast ini dengan kedewasaan karena mungkin tidak akan semua nilai-nilai yang diusung Naval akan cocok dengan Anda, karena beberapa tweet nya tidak cocok dengan saya.

Pun begitu, banyak prinsip yang bagus disini, tidak lebay dan tidak bombastis. Apa adanya.

Dengarkan selengkapnya di sini

How To! With Charles Duhigg

Podcast ini dibawakan oleh penulis bestseller: Charles Duhigg. Dan tidak ada hubungannya dengan buku yang memiliki judul yang sama diatas.

Isinya memang sesuai judulnya. Bagaimana melakukan apa saja.

  • Dari mulai bagaimana cara tidur?
  • Bagaimana cara mengingat semua hal?
  • Bagaimana cara agar tidak takut?
  • Dll.

Walaupun sekilas kedengaran aneh, banyak sekali wawasan baru saya dapatkan dengan mendengarkan ini saat berkendara.

Dengarkan di sini

10 Episode KEPO Yang Paling Banyak Didengarkan

Ini daftar 10 episode KEPO yang paling banyak didengarkan sepanjang 2019.

  1. Episode 42 – Penghambat Bisnis Yang Sedang Bertumbuh
  2. Episode 41 – Jual Produk Sampingan
  3. Episode 6 – 5 Cara Mendapatkan 30.000 List Email dan Kontak Whatsapp dalam 7 Hari ala Rico Huang
  4. Episode 53 – Semua Belum Jadi Masalah Sampai Jadi Masalah
  5. Episode 50 – Bagaimana Belajar Bisnis Online Yang Benar Bersama Wientor Rah Mada
  6. Episode 52 – Micro Influencer, Nano Influencer, Bermanfaatkah Bagi Bisnis? Bersama Rade Tampubolon
  7. Episode 51 – Metric Populer VS Metric Penting Dalam Facebook Ads Bersama Bramantya Farid
  8. Episode 48 – Dari London Ke Ubud, Ngobrol Kerja Remote Bersama Egor Borushko
  9. Episode 38 – Formula Rahasia Untuk Sales
  10. Episode 49 – Menumbuhkan Bisnis Menggunakan Jasa Freelance – Bersama Ryan Gondokusumo

Video

The Third Industrial Revolution: A Radical New Sharing Economy

Jika ada satu video yang harus Anda tonton untuk memahami kemana arah perkembangan industri dalam 5 – 10 tahun kedepan. Menurut saya ini videonya.

Dalam kuliah ini, Jeremy Rifkin menjelaskan dengan sangat baik tentang revolusi Industri yang akan terjadi selanjutnya.

Simak kuliah ini baik-baik, terutama pada bagian zero marginal cost ini

Inside Bill’s Brain: Decoding Bill Gates

Sebagai catatan, saya tidak menonton film, karenanya tidak memiliki akun Netflix.

Namun, setelah melihat tralier untuk film dokumenter ini, maka akhirnya saya memutuskan untuk membuat akun Netflix.

Dan dari film ini saya mencatat beberapa hal:

  • Bill Gates, walaupun dalam posisinya sekarang, bahkan email penawaran kerjasamanya masih juga tidak dibalas.
  • Bill Gates, dengan semua sumber daya dan koneksi yang ia miliki, ternyata masih banyak tidak berhasilnya, malah 3 episode dokumenter ini lebih banyak menunjukkan Bill gagal mencapai target-targetnya.
  • Bill Gates masih harus memikirkan bagaimana membuat presentasi yang bagus. Dan penawarannya masih juga ditolak.

Intinya, Bill Gates itu manusia biasa juga. Banyak buat salah juga. Mungkin sama seperti kita.

Tonton di sini


Aplikasi

Zero

Zero adalah aplikasi untuk tracking puasa yang saya gunakan intensif selama 1 tahun ini.

Selain untuk tracking atau mengukur aktivitas puasa, saya biasanya menggunakannya untuk reminder atau pengingat jadwal puasa saya.

Install di sini

Belanja.Bio

Aplikasi yang lahir dari keinginan membuat pengalaman belanja melalui Instagram di Indonesia yang lebih baik dan tentunya lebih konversi.

Mungkin saat ini Anda merasakan juga, tidak ada cara yang menyenangkan bagi orang Indonesia untuk belanja di Instagram. Prosesnya tidak mengalir.

Disinilah lahir Belanja.Bio sebagai penengah.

Belanja.Bio kami luncurkan pada bulan Agustus dan Alhamdulillah mendapatkan sambutan yang cukup bagus dari masyarakat.

Daftar Belanja.Bio di sini

Spark

Aplikasi Gmail di Android ataupun iOS mungkin adalah aplikasi email yang paling tidak saya sarankan. Alasannya banyak sekali, selain karena tampilannya kurang menyenangkan, fungsinya tidak lagi produktif. Tidak cocok untuk kerja professional.

Karenanya tahun ini saya memutuskan mencari aplikasi email berbeda, terutama untuk Android. Dan Spark adalah jawaban yang saya cari.

Spark juga di desain untuk tim, dimana kita bisa menangani dan mendelegasikan email ke tim.

Download Spark di sini

Jika Anda ingin lebih serius lagi, mungkin bisa mempertimbangkan Superhuman, saya sedang mempertimbangkan Superhuman untuk digunakan selama 2020.


Campaign Iklan Terbaik

One, Ten, One Hundred

Bagaimana jika Anda akan mempromosikan sebuah produk, dimana kompetitor Anda adalah YouTube?

Inilah yang dihadapi oleh Wistia, sebuah layanan video hosting. Ya seperti YouTube.

Tapi tidak seperti YouTube, Wistia mentarget pebisnis sebagai audience-nya, karena layanan video mereka memang didesain khusus untuk bisnis.

Jadi, apa yang mereka lakukan untuk menang dari layanan sebesar YouTube? Jawabannya: Kampanye marketing yang luar biasa menarik.

Dan One, Ten, One Hundred adalah salah satunya.

Jadi, kampanye ini pada dasarnya adalah seperti film mini seri. Dimana tim Wistia meminta sebuah agency periklanan untuk membuat 3 iklan dengan budget masing-masing:

  • USD 1,000
  • USD 10,000
  • Dan USD 100,000

Dan disini kita bisa melihat langsung bagaimana keterbatasan budget tidak menghalangi kreativitas. Dan bagaimana di belakang layar proses produksi video professional dengan budget besar bekerja.

Keseluruhan kampanye ini untuk mempromosikan salah satu produk baru Wistia yang bernama: Soapbox.

Lihat campaign nya di sini.


Kelas/ Workshop

IndoNLP

Dari mungkin puluhan kelas,workshop dan seminar yang saya ikuti tahun ini. Satu kelas yang saya rasakan paling bermanfaat adalah kelas IndoNLP.

Saya sudah mengkuti kelas-kelas di IndoNLP sejak 2018, dan masih akan mengikuti beberapa kelas lagi di 2020.

Sebenarnya IndoNLP memiliki website di http://indonlp.com/, namun saya sendiri lebih sering mendaftar dan berkomunikasi ke tim IndoNLP melalui Whatsapp 0817 9963003.


Lainnya

10 Artikel Terpopuler di KIRIM.EMAIL Blog.

  1. Cara Membuat Link WhatsApp Menuju Chat Langsung Di Email Secara Otomatis
  2. 6 Alasan Mengapa Jualan Anda Tidak Ada Yang Beli
  3. Cara Mencari Channel Telegram, Lebih Banyak Hasil Dan Tetap Relevan
  4. Fitur Tersembunyi Telegram Yang Mungkin Anda Belum Tahu
  5. 17 Langkah Cara Membuat Email Dengan Domain Sendiri
  6. Cara Membuat Iklan Di Facebook – Lengkap, Gratis Dan Bisa Langsung Dipraktekkan
  7. Bagaimana Memulai Dan Cara Membuat Podcast
  8. Rumus Copywriting Ini Bisa Membuat Anda Mendominasi Sosial Media
  9. Cara Agar Artikel Website Terindex Google Dengan Cepat Tanpa Backlink
  10. Daftar Program Affiliate Marketing Terbaik Indonesia

Mack’s Pillow Soft Earplugs

Bekerja remote tentu saja memiliki banyak sekali kelebihan.

Namun salah satu kekurangan terbesarnya, apalagi jika Anda banyak kerja dirumah seperti saya. Dengan 4 orang anak yang sehat dan aktif (Alhamdulillah), terkadang sedikit menimbulkan distraksi atau gangguan.

Untuk pekerjaan yang menuntun fokus, saya biasa mengerjakannya dari rumah, karena bekerja diluar seperti di Coffee Shop misalnya, akan memiliki banyak sekali gangguan visual dan audio.

Saya memiliki ruangan terpisah untuk bekerja dirumah saya. Sebagian besar gangguan dan distraksi visual mungkin hilang saat saya masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya.

Namun distraksi audio, atau suara-suara anak-anak saya dari luar ruangan masih tidak bisa dihindari, sedikit banyak akan masuk kedalam ruangan kerja saya.

Terkadang saya ingin benar-benar fokus dan tidak ingin mendengarkan apapun, terutama jika sedang menulis.

Awalnya saya ingin memilih headphone yang memiliki fitur noise cancelation. Namun, dari pengalaman saya di dunia audio selama 12 tahun, headphone seperti itu akan kurang nyaman jika digunakan bekerja selama 4+ jam non stop.

Daun telinga akan terasa panas karena aliran udara yang tidak masuk kedalam. Belum lagi batere di headphone itu yang harus terus diisi. Jika kita lupa, maka fitur noise cancelation-nya akan hilang.

Awalnya saya ingin menggunakan earplug atau penyumbat telinga yang biasa, hingga saya menemukan produk ini.

Tidak seperti kebanyakan penyumbat telinga yang berbentuk busa, produk ini berbentuk seperti tanah liat/ lilin mainan yang bisa dengan mudah dibentuk untuk mengesuaikan bentuk telinga kita.

Setelahnya ia akan akan menetap di telinga dengan baik, tidak terjatuh, dan hasilnya menimbulkan keheningan yang sangat bagus menurut saya. Benar-benar kedap suara hingga terkadang saya tidak tahu ada orang yang masuk kedalam ruangan saya.

Lagi, produk ini tidak untuk semua orang, dan walaupun produk ini dari klaimnya mereka adalah produk yang masuk ke kategori produk kesehatan yang bisa dibawa tidur, saya tidak pernah tidur menggunakan ini, hanya saya gunakan saat bekerja saja.

Pertimbangkan juga, ada orang yang menjadi sangat tidak nyaman secara kejiwaan saat berada dalam keheningan total seperti itu. Atau saat sensori telinga mereka berkurang drastis. Jadi berhati-hati sebelum menggunakannya secara intensif.

Memberikan Nasihat Terbukti Meningkatkan Hasil Akademis Bagi Si Pemberi Nasihat

Ini menurut saya sangat menarik. Ternyata memberikan nasihat justru memberikan manfaat besar bagi si pemberi nasihat itu sendiri.

Walaupun konteksnya disini adalah dalam dunia akademis, namun prinsipnya bisa Anda terapkan dalam konteks lain.

Karenanya mulailah sering-sering memberikan nasihat.

Studi lengkapnya di sini


Ini mungkin sebagian dari hal-hal terbaik yang bisa saya bagikan kali ini.

Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sebagaimana ini bermanfaat bagi saya.

Terima kasih.

-Fikry

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *