Menjadi CEO Terbaik Bersama Nur Efendi, CEO Rumah Zakat – Ep. #64

Bismillah..

Menjadi CEO Terbaik. Itulah pembahasan kita di KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast Episode 64 ini. Saya mengambil judul tersebut karena ada tamu istimewa di episode ini.

Tamu istimewanya adalah Bapak Nur Efendi. Beliau merupakan CEO Rumah Zakat Indonesia. Beberapa waktu lalu beliau dinobatkan sebagai salah satu CEO terbaik Indonesia tahun 2019 oleh majalah SWA.

Di tengah-tengah kesibukan beliau yang sangat padat, Alhamdulillah saya berkesempatan bertemu, belajar langsung dan mengundang beliau sebagai narasumber di KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast episode 64 ini.

Bagaimana diskusi saya dengan Pak Nur Efendi? Silakan simak KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast dengan judul “Menjadi CEO Terbaik Bersama Nur Efendi, CEO Rumah Zakat” berikut ini. Selamat mendengarkan.

Ingin mendengar Podcast ini langsung dari smartphone Anda?

Ingin Mendengar Podcast Ini Langsung Dari Smartphone Anda?
Daftarkan email Anda disini. Kami akan memberikan instruksi lengkapnya.

Powered by Kirim.Email

Apa tugas utama seorang CEO?

Mengawali diskusi saya dengan Pak Nur Efendi, ada beberapa “pertanyaan titipan” yang hampir mirip yang intinya adalah apa tugas utama seorang Chief Executive Officer (CEO).

Menurut Pak Nur Efendi, tugas utama seorang CEO itu adalah menjaga visi perusahaan agar tetap berjalan dan memastikan arah perusahaan sesuai dengan visinya tersebut.

Selain itu, seorang CEO juga mempunyai tugas untuk menumbuhkan semangat tim untuk mencapai visi perusahaan. Kalau tim sudah bersemangat mencapai visi, maka dalam diri mereka akan tumbuh harapan di masa yang akan datang.

Sedangkan untuk visi Rumah Zakat sendiri adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk bertemu dengan Alloh SWT dan membantu menyelamatkan saudara-saudara kita dari kemiskinan dan memberdayakan mereka.

Visi inilah yang setiap hari dikomunikasikan jajaran manajemen Rumah Zakat ke semua tim nya, dari atas sampai bawah.

Bagaimana perjalanan Menjadi CEO Rumah Zakat?

Sebelum bergabung dengan Rumah Zakat, awal mulanya Pak Nur menjalankan bisnis perjalanan wisata pendidikan bersama teman-teman beliau. Dalam perjalanan bisnisnya, ada yang tidak sesuai dengan idealisme beliau. Lalu pada akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari bisnis tersebut.

Sekitar awal tahun 2006 beliau melihat ada lowongan sebagai relawan di Rumah Zakat. Tanpa pikir panjang Pak Nur langsung melamar sebagai relawan tetapi tidak diterima. Beliau malah diterima sebagai seorang ZIS Konsultan di Rumah Zakat pada waktu itu. Tugasnya adalah memaintain para muzakki atau calon muzakki.

Kemudian karena jaringan beliau cukup banyak dan luas, maka di awal tahun 2007 beliau dipromosikan sebagai Branch Manager di Surabaya.

Lalu di tahun 2008 beliau dipromosikan lagi sebagai Regional Head di wilayah Jawa yang meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan D.I. Yogyakarta.

Karena performa beliau bagus di area Jawa, kemudian pada tahun 2009 beliau dipromosikan lagi sebagai Direktur Operasional yang membawahi keuangan, SDM dan juga sarana prasarana.

Lalu di tahun 2010 beliau ditarik ke bagian fundraising sebagai direktur yang membawahi 34 cabang. Kemudian di awal tahun 2011 beliau diminta sebagai Direktur Program, namun hanya sampai 6 bulan saja. Selebihnya di pertengahan tahun 2011, Beliau menjabat sebagai CEO Rumah Zakat hingga saat ini.

Bagaimana keseharian sebagai seorang CEO?

Terkait keseharian beliau, Pak Nur menjelaskan bahwa beliau kalau tidur malam paling cepat jam 22.00. Kemudian beliau bangun tidur paling cepat jam 02.00 dan paling lambat jam 03.30.

Lalu menjalankan sholat subuh berjamaah di masjid dan setelahnya membaca berita online. Dan kadang beliau juga menyempatkan membuka laptop untuk menulis.

Berangkat dari rumah ke kantor jam 06.30 atau paling lambat jam 07.00 supaya bisa lebih cepat dari karyawan yang lain.

Kemudian beliau di berkantor di Bandung hanya hari Senin saja. Hari Selasa sampai Jumat beliau berada di Jakarta untuk ber-networking, bertemu dengan orang lain dan lain sebagainya.

Apa yang membedakan Rumah Zakat dengan LAZ lain?

Menurut Pak Nur Efendi, perbedaan paling terasa antara Rumah Zakat dengan Lembaga Amil Zakat lainnya adalah pada visi, baik visi jangka panjang maupun visi jangka pendek.

Perbedaan kedua antara Rumah Zakat dengan LAZ lainnya adalah orang-orang di dalamnya. Orang-orang di Rumah Zakat sebagian besar adalah anak muda yang sangat dinamis dan kreatif.

Perbedaan ketiga adalah jaringan, baik dari segi jumlah, luas maupun kualitasnya. Dan menurut pak Nur, jaringan yang dimiliki oleh Rumah Zakat bisa diadu dengan jaringan milik LAZ lainnya.

Dan perbedaan keempat adalah cara atau pola pemberdayaannya. Di Rumah Zakat, pola pemberdayaannya sudah terintegrasi di suatu wilayah baik dari sisi pendidikan, ekonomi maupun sosialnya. Sedangkan LAZ lainnya beberapa masih berfokus di satu sisi pemberdayaan saja.

Bagaimana seorang CEO bisa peka terhadap perubahan yang sangat cepat?

Saat ini ada inovasi digital yang sangat luar biasa. Terkait hal ini ada perusahaan yang mampu merespon inovasi digital ini dengan sangat baik. Namun di sisi lain ada juga perusahaan yang tidak merespon dan malah makin percaya diri dengan pencapaian yang mereka dapatkan sampai saat ini tanpa melihat perubahan yang ada. Maka terjadilah disruption.

Rumah Zakat sebenarnya sudah menyadari akan hal ini di tahun 2000-an. Namun baru mulai berbenah menghadapi inovasi teknologi ini di tahun 2014. Kemudian Rumah Zakat menyadari lagi bahwa perkembangan teknologi makin kesini makin cepat.

Maka pada tahun 2020 ini Rumah Zakat bertransformasi menjadi institusi digital kelas dunia. Sehingga semua yang terkait dengan teknologi digital baik orang, sistem maupun infrastruktur terus diperbaiki.

Bagaimana kriteria atau karakter SDM yang sesuai dengan visi dan misi Rumah Zakat?

Menurut Pak Nur yang pertama kali dilihat pada SDM di Rumah Zakat adalah attitude atau sikapnya. Setelah itu baru kemudian skill nya. Kalau attitude nya bagus tetapi skillnya kurang bagus, maka skill itu masih bisa dilatih.

Bagaimana proses melahirkan pemimpin baru di perusahaan?

Sekitar tahun 2015 Rumah Zakat membuat perusahaan baru di bawahnya, sebagai contoh Sharing Happiness dimana setiap perusahaan ini ada pemimpinnya. Pada prosesnya Sharing Happiness ini merupakan ide dari anak-anak muda yang ada di Rumah Zakat.

Kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk menjalankannya dan karena performanya sangat bagus, pelan-pelan Sharing Happiness ini dilepas menjadi perusahaan sendiri sebagai wadah untuk anak-anak muda di Rumah Zakat. Selain itu, proses Ini juga merupakan bagian dari kaderisasi yang ada di Rumah Zakat.

Bagaimana cara mendorong semangat ketika sedang lesu?

Seorang CEO juga manusia. Tidak selamanya dalam kondisi selalu bersemangat. Ada kalanya seorang CEO juga mengalami lesu atau tidak bersemangat. Itu juga yang terjadi dengan Pak Nur Efendi.

Ketika beliau mengalami hal seperti ini, maka yang beliau lakukan adalah berkomunikasi dengan Alloh SWT melalui ibadah yang istimewa, seperti istigfar, membaca lafaz hauqolah dan bersholawat.

Nasihat untuk jadi CEO yang lebih baik

Terakhir pada diskusi saya dengan Pak Nur, beliau menasihat kan agar terus memperbaiki ibadah, karena bukan kita yang hebat, tetapi Alloh SWT yang memberikan kehebatan itu pada kita.

Selain itu beliau juga memberikan pesan agar selalu menjaga visi sampai ke tim yang paling bawah. Karena bagaimanapun juga visi ini adalah ruh dan energi bagi tim kita. Dan yang terakhir adalah kita harus lebih bersemangat dari tim, karena kalau tim melihat kita bersemangat, maka mereka juga akan bersemangat. Ini adalah bentuk keteladanan seorang pemimpin bagi tim nya.

Itulah KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast episode 64 ini. Mudah-mudah bermanfaat dan sampai bertemu di episode berikutnya.

Dengarkan KEPO – KIRIM.EMAIL Podcast Langsung Dari HP Anda

Agar tidak ketinggalan update episode terbaru KEPO – KIRIM.EMAIL Podcast, Anda bisa men-download dan mendengarkannya langsung melalui HP Anda, caranya:

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments