Lawan Dari Rasa Syukur

Lawan Dari Rasa Syukur

Bismillah…

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pengingat dari Facebook, bahwa 3 tahun yang lalu KIRIM.EMAIL mendapatkan 2000 pengguna pertamanya.

Di balik perayaan yang mungkin ada di Facebook, ada rasa syukur yang luar biasa saat itu di belakang layar. Sesuatu yang kami buat dengan susah payah, Alhamdulillah diterima oleh pasar.

Sebelum 2000 pengguna itu, kami juga merayakan dan bersyukur saat mendapatkan 1000 pengguna pertama, bahkan 100 pengguna pertama.

Rasanya senang sekali saat itu.

Namun, setelah 2000 pengguna ini, kami mulai berhenti merayakan, dan mungkin juga, perlahan-lahan, mulai berhenti bersyukur.

Perusahaan mulai mendapat traksi dan mulai bertumbuh dengan sendirinya. Traffic meningkat, jumlah pengguna terus meningkat dan seterusnya.

Tidak ada lagi postingan di Facebook saat jumlah pengguna kami mencapai 3000, 5000, 10 ribu. Mungkin karena kami terlalu fokus bertumbuh saat ini.

Kami, terutama mungkin saya, mulai berpikir “itu sudah seharusnya”, atau lebih parah “kami berhak mendapatkan semua ini karena kerja keras kami, kurang tidur, kurang waktu dengan keluarga, dan pengorbanan lain”.

Saya lupa persisnya alasan kenapa kami tidak lagi memposting pencapaian kami, namun satu hal yang saya ingat, rasa syukur yang menyelimuti hati saya saat mencapai 2000 pengguna itu seperti tidak pernah kembali lagi selama jangka waktu yang cukup lama.

Disini saya menemukan yang menurut saya lawan dari rasa syukur, yaitu merasa berhak.

Ini mungkin terjadi juga di bisnis lain, tidak hanya di kami. Atau mungkin juga pada bisnis Anda.

Saya melihat sendiri beberapa bisnis itu sangat bersyukur saat mendapatkan omset Rp10 juta pertama, Rp100 juta pertama, dst.

Ada perayaan disana, dan alasan di balik perayaan itu biasanya adalah rasa syukur.

Saya diundang makan-makan oleh mereka, walaupun sederhana, hanya makan di warung sate di pinggir jalan misalnya, tapi saya bisa merasakan rasa syukur di sana. Terpancar dari bahasa tubuh mereka.

Mereka juga berbagi ke kaum dhuafa, anak yatim dan berkata pada saya “ini semua karena Allah mas…”

Namun, semakin bertumbuhnya bisnis mereka, lama kelamaan pola yang sama dengan kami di atas terjadi.

Saat rasa syukur yang muncul saat mencapai 100 juta pertama seperti menghilang saat mencapai 200 juta. Beberapa kembali muncul saat mencapai Rp1 Milyar, tapi beberapa juga tidak, seperti yang saya katakan di atas, merasa berhak.

Omset Rp10 juta sebulan yang tadinya begitu menggembirakan, kini tidak lagi terasa sebagai sebuah pencapaian, walaupun bisa dicapai dalam sehari, bahkan hanya beberapa jam.

Kalimat yang tadinya “semua ini karena Allah…” perlahan berubah menjadi “kerja keras tidak akan mengkhianati…”, dll.

Mungkin kita jadi merasa berhak, atau merasa memang sudah sepantasnya, atau perasaan-perasaan lain yang muncul sejenis mungkin akibat “efek samping” kerja keras.

Kita lupa bahwa berapapun angka yang kita capai, Allah bisa mengambilnya kembali begitu saja, kapan saja.

Mungkin waktunya kita coba mengembalikan dan fokus mempertahankan rasa syukur.

Catatan, saya tidak mengatakan kerja keras itu tidak ada pengaruhnya, bukan itu, kemungkinan besar ya jelas ada. Namun di titik tertentu, ada saat dimana kerja keras kita tidak ada pengaruhnya lagi.

Tapi ini mungkin bahasan lain waktu.

-Fikry