7 Tahap Pertumbuhan Bisnis Kecil

7 Tahap Pertumbuhan Bisnis Kecil

Bisnis yang baik adalah bisnis yang mengalami pertumbuhan dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Jika saat ini bisnis yang kita jalankan masih sangat kecil, tidak perlu khawatir karena suatu saat akan menjadi besar selama masih bertumbuh dan berkembang.

Sebagai contoh perusahaan Apple yang memproduksi berbagai perangkat seperti Macbook, iPhone dan juga iPad. Dulunya Apple tidak langsung besar seperti saat ini. Apple bermula dari bisnis yang sangat kecil. Bahkan Steve Jobs mendirikan Apple hanya dari garasi rumahnya. Namun karena kerja kerasnya bersama tim pada akhirnya Apple bisa menjadi perusahaan yang besar tidak hanya di Amerika, tetapi juga di dunia.

Berikut ini ada beberapa tahap pertumbuhan bagi sebuah bisnis kecil. Di setiap tahap pertumbuhan ada tantangannya, dan ketika kita berhasil melalui tantangan tersebut maka bisnis kita akan naik kelas. Dengan membacanya kami berharap agar Anda bisa memahami langkah apa saja diperlukan untuk sampai ke tahap berikutnya.

Tahap 1 : Solopreneur

Solopreneur adalah tahapan bisnis dimana semuanya dijalankan oleh satu orang. Memang tidak semua bisnis dimulai dari tahapan ini, tetapi setidaknya ada cukup banyak bisnis di Indonesia yang dimulai dari tahap solopreneur.

Bisnis pada tahap solopreneur biasanya seorang owner merangkap jabatan dan pekerjaan. Dia menangani semua urusan teknis maupun strategis. Melayani pelanggan, penjualan, pemasaran, akuntansi, media sosial, pertemuan dengan stakeholder, pencarian calon pelanggan, dan banyak hal lainnya yang membentuk bisnis yang sukses.

Solopreneur ini bisa kita jumpai di bisnis offline seperti bakso keliling, warung nasi goreng atau warteg, sate keliling, laundry dan lain sebagainya. Namun solopreneur juga bisa kita temui pada bisnis online. Contohnya para reseller dan juga dropshipper pemula juga termasuk dalam tahap bisnis solopreneur.

Bisnis pada tahap solopreneur ini yang menjadi faktor penentunya adalah waktu. Kita semua memiliki waktu yang sama dalam sehari, sama-sama  24 jam. Waktu yang sama ini bisa menjadi aset terbesar maupun kelemahan terbesar, tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Ada solopreneur yang merasa kekurangan waktu, namun ada juga soloprenuer yang bisa mengelola waktunya sehingga tidak hanya mengurusi bisnisnya saja, namun juga memikirkan keluarganya dan bagaimana bisnisnya bisa berkembang tanpa dia harus terlibat langsung di dalam bisnisnya.  Semuanya tentang manajemen waktu dan produktivitas.

Maka tidak mengherankan bila kita sering bertemu dengan seorang solopreneur yang memutuskan untuk tetap berada di tahap ini selamanya, sementara yang lain melanjutkan melalui tahap-tahap selanjutnya yang kami sebutkan pada bagian selanjutnya.

Tahap 2 : Partnership

Tahap kedua pertumbuhan bisnis setelah solopreneur adalah partnership atau bekerjasama dengan orang lain. Bisnis yang sudah mulai masuk ke tahap partnership ini biasanya terdiri dari solopreneur yang menyadari bahwa dia tidak bisa menjalankan dan membesarkan bisnisnya sendirian.

Maka pada tahap ini seorang solopreneur akan mencari partner untuk menjalankan bisnisnya. Partner di sini bisa berarti sangat luas. Partner bisa berupa karyawan, atau bisa juga seorang co-founder bagi sebuah bisnis.

Dengan adanya partner di dalam bisnis yang kita jalankan, kita bisa lebih mudah dan fokus terhadap hal-hal yang kita kuasai. Sedangkan hal-hal tidak kita kuasai bisa diambil alih oleh partner kita tersebut.

Misalnya saat menjadi solopreneur bisnis Anda adalah jualan sate. Karena ingin naik kelas bisnis Anda, pada akhirnya memutuskan untuk mencari partner. Anda yang melakukan hal-hal yang berkaitan dengan produksi seperti berbelanja hingga membuat sate. Sedangkan partner Anda bertanggung jawab untuk menyediakan minuman dan melakukan pemasaran. Ini yang disebut sebagai tahap partnership.

Pada tahap ini tantangannya adalah kepercayaan terhadap partner kita. Sehingga hal yang paling menentukan pada tahap ini adalah seberapa percaya dan seberapa baik kerjasama dengan partner kita. Kalau hubungan kita dengan partner baik dan kompak, maka akan dengan mudah kita mencari partner yang lain untuk mengembangkan bisnis.

Namun jika baru satu partner saja hubungannya sudah tidak bagus, tidak ada jaminan hubungan dengan partner berikutnya akan juga baik.

Tahap 3 : Operasional Stabil

Setelah kita punya partner bisnis, hubungan dan kerjasamanya baik, seiring berjalannya waktu maka bisnis kecil yang kita jalankan akan masuk pada tahap yang ketiga, yaitu operasional bisnis yang stabil.

Pada tahap ini umumnya kegiatan operasional sudah mulai tertata. Bagian produksi sudah ada yang mengurusi, bagian pelayanan pelanggan sudah ada yang meng-handle, bagian keuangan dan pemasaran juga sudah ada orang-orang yang menempati. Sehingga pada tahap ini kegiatan operasional bisnis sudah mulai stabil.

Namun bisnis pada tahap ini tantangannya adalah pada pemasaran. Kita sebagai pemilik bisnis dituntut untuk bisa selalu menghasilkan penjualan. Karena jika penjualan lambat maka operasional bisnis juga akan terhambat.

Maka dari itu bisnis yang berada pada tahap ini perlu memikirkan cara supaya penjualan bisa tetap ada. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, mulai dari melakukan cross selling atau up selling, menambah saluran pemasaran sampai pada menargetkan segmen pasar yang lebih luas lagi.

Tahap 4 : Local Champion

Bisnis pada tahap ini pendapatannya juga sudah mulai lancar. Penjualannya semakin banyak serta omsetnya bertambah dengan cukup signifikan. Dan pertumbuhan bisnis sudah mulai terlihat.

Orang-orang yang berada di suatu daerah sudah mengenal brand bisnis yang kita jalankan. Biasanya bisnis yang sudah masuk pada tahap ini adalah bisnis yang menjadi market leader di daerah tertentu.

Di daerah Klaten misalnya. Untuk warung ayam goreng, Olive Chicken dan Rocket Chicken lebih menguasai pasar daripada KFC. Terbukti ada lebih dari 5 gerai Olive Chicken di Klaten, sedangkan KFC hanya 1 gerai saja. Sehingga Olive Chicken bisa dikatakan sebagai juara lokal untuk pasar ayam goreng.

Bisnis yang berapa pada tahap ini biasanya tantangannya adalah pada pertumbuhannya. Orderan masih tetap mengalir deras, tetapi kapasitas produksi dan sumber daya manusianya tidak berbanding lurus dengan permintaan. Sehingga mau tidak mau pertumbuhan bisnisnya menjadi terhambat.

Kasus seperti ini sudah pernah kami bahas pada salah satu episode KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast Episode 42 yang berjudul Penghambat Bisnis Yang Sedang Bertumbuh.

Anda bisa mendownload ataupun mendengarkan episode tersebut untuk mengetahui penyebab hambatan bisnis yang sedang tumbuh dan cara mengatasinya.

Tahap 5 : Bisnis Terkendali

Setelah Anda berhasil menjadi local champion dan berhasil mengatasi hambatan pertumbuhan bisnis, maka sebagai konsekuensinya adalah bisnis Anda menjadi semakin besar.

Besar di sini maksudnya adalah besar dari segi pendapatannya, besar dari cakupan target marketnya dan besar dari jumlah karyawan yang semakin banyak.

Maka tantangan sebuah bisnis pada tahap ini adalah mengendalikan bisnis bersama orang-orang yang tepat. Mengelola puluhan karyawan dengan mengelola ratusan atau ribuan karyawan itu berbeda cara dan pendekatannya. Maka kita perlu orang-orang yang mampu dan berpengalaman mengatur dan mengendalikan orang-orang dalam jumlah banyak.

Mungkin kita bisa mencari beberapa manager untuk memimpin divisi-divisi yang ada di bisnis kita. Seperti manager pemasaran, manager produksi, manager keuangan dan manager personalia.

Tahap 6 : Mature Company

Setelah bisnis kita mencapai tahap bisnis terkendali, maka tidak serta merta bisnis kita berubah menjadi mature company atau bisnis yang matang. Setidaknya kita butuh waktu 5-10 tahun pertama untuk bisa menjadi mature company.

Pada tahap ini yang menjadi tantangan bukan lagi pada pertumbuhan bisnis. Tetapi pada perencanaan strategis yang tujuannya agar bisnis kita bisa bertahan dan tetap eksis dalam waktu yang lama.

Tahap 7 : Pemain Korporat

Setelah bisnis Anda mencapai tahap mature company, tahap selanjutnya adalah menjadi pemain korporat. Ini adalah tahap tertinggi dan yang paling sulit dicapai untuk sebuah bisnis kecil. Namun begitu bukan tidak mungkin, karena ada cukup banyak orang-orang yang sudah membuktikannya. Mereka mulai bisnis dari seorang solopreneur dan saat ini bisnisnya sudah mencapai tahap korporat. Sebut saja Chairul Tanjung, Hendy Setiono, Dahlan Iskan, Almarhum Bob Sadino, Susi Pudjiastuti, dan lain sebagainya.

Pada tahap korporat ini Anda perlu mengembangkan karyawan berkinerja tinggi ini sehingga Anda dapat fokus pada bidang lain dari bisnis Anda. Sementara itu tim kepemimpinan mengelola dan mengawasi anggota tim mereka masing-masing. Pada titik ini, tim pada tingkat top management harus menjadi satu-satunya orang yang melaporkan langsung kepada Anda.

Demikian 7 tahap pertumbuhan bisnis kecil ini. Kami harap mudah-mudahan ini bermanfaat dan bisnis Anda segera naik kelas. Terima kasih dan sampai bertemu di artikel berikutnya.