HEADLINE: Satu Kantor Sejuta Peluang di Co-Working Space

Tentu ada beberapa pertimbangan saat menentukan dan memilih co-working space. Kriteria tersebut antara lain, kemudahan menuju lokasi, membership benefit untuk para anggota, jenis orang yang datang ke tempat tersebut, hingga suasana kantor yang nyaman juga menjadi bahan pertimbangan. Menurut Fikry, co-working space menjadi penting ketika pekerjaan atau proyek yang dibuat bersifat kreatif, butuh kolaborasi dengan orang-orang lain yang membutuhkan keahlian kreatif juga. Maka, tak heran, dalam sebuah co-working space, berkumpullah orang-orang dengan keahlian macam-macam utamanya yang terkait dengan industri kreatif.

Sangat masuk akal pula, seorang desainer seperti Monique Alexa (37), rela meninggalkan gedung kantornya yang ada di Tangerang. Ia lebih memilih bekerja di Jakarta Creative Hub, sebuah co-working space yang dibangun Pemprov DKI di masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Banyak alasan mengapa Monique melakukan itu. Selain lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau, yaitu di kawasan Tanah Abang, Jakarta Creative Hub sebagai co-working space juga memiliki fasilitas lengkap untuk kebutuhan desainer fashion seperti dirinya. Mulai dari fasilitas laser cutting hingga 3D printing.

“Enggak cuma itu, yang terpenting di tempat ini kita juga bisa membangun network dengan teman-teman co-office dari bidang kreatif lain tentunya,” kata Monique.

Monique mengaku, biaya sewa kantor yang semakin tinggi di Jakarta menjadi alasan mengapa dirinya memilih untuk bekerja di co-working space. Selain lebih irit secara pengeluaran, Monique yang baru bergabung ke co-working space pada bulan Juni kemarin, juga mengharapkan bisa berkolaborasi dengan orang-orang di bidang lain. Seperti desain grafis, arsitek, dan ilustrasi untuk membangun dan bertukar pikiran dalam menelurkan ide untuk koleksi barunya.

“Sekarang saya sedang ngerjain koleksi untuk Jakarta Fashion Week. Ke depan kita mau coba menggunakan sulam tangan kolaborasi sama ibu-ibu rusun binaan Jakarta Creative Hub. Itu ibu-ibu yang ada di rusun binaan Pak Ahok. Kan ada beberapa rusun yang ibu-ibunya diajarkan membatik, menyulam,” ungkap Monique.

Belum tentu irit

10 tahun lalu

Fenomena co-working space sendiri telah muncul 10 tahun lalu di London, Inggris. Beberapa tahun kemudian fenomena ini makin menjamur di kota-kota besar di dunia. Makin terbatasnya ruang kantor karena harga sewa yang mahal menjadi salah satu alasannya. Selain juga makin berkembangnya bisnis startup dan kelelahan banyak orang dengan pekerjaan yang mengikat.

Di Indonensia, fenomena ini mulai ramai dua tahun belakangan, ditandai dengan berdirinya Asosiasi Co-working Indonensia. Yansen Kamto, CEO PT Kibar Kreasi Mandiri yang juga menjadi penasihat di Asosiasi Co-working Indonesia kepada Liputan6.com mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 150 co-working space yang tersebar di lebih dari 20 kota di seluruh Indonesia.

Co-working Space menurut pandangan Yansen Kamto tidak sesederhana orang datang lalu buka laptop, pakai headset dan menikmati internet kencang. Tempat ini menjadi “ruang kerja” bersama banyak orang, dengan memahami terlebih dahulu tujuannya masing-masing.

“Kalau memang ingin berinovasi atau menciptakan sesuatu, kita harus percaya inovasi itu hanya bisa lahir kalau berkolaborasi. Dan kolaborasi itu datang dari orang yang berbeda. Kebayang enggak sih, kalau kita di kantor, ketemunya wartawan lagi wartawan lagi, ya gitu-gitu aja. Tapi bayangkan di satu tempat ini wartawan bisa ketemu dengan orang PR (public relation), ketemu ahli perbankan, pengacara. Itu bisa macam-macam yang terjadi,” ungkap Yansen Kamto di Menara Kibar, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Tidak sembarangan untuk bergabung dalam satu Co-working Space. Seseorang perlu punya pola pikir mau berkolaborasi, karena hanya dengan itu co-working space bisa berjalan. Namun demikian, banyak orang salah kaprah mengartikan tempat ini. Tak jarang orang datang hanya mengharap internet cepat. Datang tidak memberi apa-apa dan pulang tidak mendapat sesuatu apa pun. Pola pikir mau berkolaborasi inilah yang kemudian dipakai PT Kibar Kreasi Indonesia, co-working space yang dibangun Yansen Kamto, untuk menjaring pemikiran kreatif anak-anak muda Indonesia.

“Sayang kalau ke co-working space tidak punya modal apa-apa, dia minimal satu punya ide, dua kalau tidak punya ide dia harus punya skill. Terakhir yang paling ideal dia harus punya proyek. Jadi kebayang enggak, semua orang yang datang punya ide, punya skill dan punya proyek? Jadi kita kayak klinik spesial, mau datang kapan ketemu siapa, dan langsung bisa berkolaborasi dengan mereka,” kata Yansen.

sumber : http://lifestyle.liputan6.com/read/3075942/headline-satu-kantor-sejuta-peluang-di-co-working-space

Jika ada pertanyaan, saran atau kritik, silakan tulis di kotak komentar di bawah ini. Dan bagikan tulisan ini di akun sosial media Anda supaya teman-teman Anda juga bisa mendapatkan manfaat yang sama.

Artikel tentang HEADLINE: Satu Kantor Sejuta Peluang di Co-Working Space ini dipersembahkan oleh KIRIM.EMAIL – Layanan Email Marketing dan Autoresponder Terbaik di Indonesia.

Tingkatkan Keuntungan Bisnis Anda Dengan Email Profit Map

Facebook Comments