Google kembangkan Anti Pelacak (App Tracking Transparency), Mau Ikut-Ikutan Apple?

Sebelumnya, fitur anti pelacak (App Tracking Transparency) hanya ada di Apple. Namun, kini pengguna Android dikabarkan juga akan bisa menikmatinya. Berita bahwa Google akan mengembangkan sistem anti pelacak di Android telah diliput oleh Blomberg pada Selasa, 4 Februari 2021 lalu.

Meskipun diberitakan sedemikian rupa, namun Google belum mengonfirmasi hal tersebut. Juru bicara perusahaan Google hanya mengatakan bahwa Google memang sedang mencari cara untuk meningkatkan privasi penggunannya.

Apa itu Anti Pelacak (App Tracking Transparency)?

Anti pelacak atau app tracking transparency adalah fitur yang diberikan kepada gadget yang berfungsi untuk mengetahui apa saja yang dilacak dalam sebuah aplikasi dan sebuah situs yang pengguna kunjungi. Dengan app tracking transparency, pelanggan bisa memblokir juga iklan – iklan dari developer luar untuk masuk ke rumah kita.

Cara Kerja Anti Pelacak (App Tracking Transparency)

Cara kerja app tracking transparency sebenarnya sangat simple. Anda akan diberitahu kapan anda akan dilacak oleh berbagai aplikasi yang anda mainkan dan situs web yang anda buka. Namun, anda juga harus tahu, kapan sebaiknya anda harus dilacak dan tidak harus dilacak.

Untuk pengguna produk Apple iOS 14.5 beta terbaru, mereka sudah mendapatkan fitur ini sejak jauh – jauh hari. Jadi, ketika anda membuka sebuah aplikasi atau mengunjungi situs web tertentu yang menginginkan untuk melacak aktivitas anda, app tracking transparency akan memberi tahu melalui notifikasi pop up yang menyatakan bahwa aplikasi atau situs web tertentu ingin melacak anda. Lalu, anda bisa menyetujuinya jika berkenan dan menolaknya jika tidak berkenan.   

Kini, Apple sudah mulai mewajibkan hal tersebut untuk setiap aplikasi yang tersedia di App Store. Namun, apabila developer tidak bisa memenuhi standarisasi tersebut, maka aplikasinya akan dihapus paksa di App Store.  

Berbeda dengan sistem Android yang saat ini sedang kita gunakan, kita tidak pernah mendapat notifikasi apapun terkait perizinan pelacakan aktivitas ketika membuka sebuah aplikasi. Hal tersebut dianggap melanggar etika dan privasi pengguna Android. Maka dari itu, kini Google sedang mencari cara untuk menerapkan hal tersebut pada sistem operasi yang dibuatnya.

BACA JUGA :   Fitur Unggulan BiP Yang Tidak Dimiliki WhatsApp

Kritikan Pihak Lain Tentang App Tracking Transparency

Ternyata kinerja dan sistem fitur app tracking transparency ini menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Salah satu platform yang mengkritik tentang app tracking transparency adalah Facebook.

Penggunaan sistem app tacking transparency dinilai oleh Facebook terlalu merugikan pihak developer yang masih kecil.

Menanggapi hal tersebut, Federighi, mengatakan bahwa seorang yang menolak sistem App Tracking Transparancy cenderung memiliki model bisnis pelacakan invasif.

Contoh model bisnis invasif adalah seperti berikut. Saat anda memikirkan sesuatu, misalnya laptop gaming gahar merek tertentu. Lalu, karena anda penasaran dengan harganya, anda mencoba – coba untuk menelusuri harganya lewat browser atau aplikasi E-commerce.

Tak lama kemudian, anda membuka membuka aplikasi lainnya misalnya Instagram. Padahal anda membuka Instagram hanya untuk membalas DM, namun, karena pelacakan invasif, di aplikasi Instagram tersebut, bisa saja tiba – tiba muncul iklan sesuai dengan barang yang anda telusuri tadi.  

Pelacakan invasif tersebut bermula dari kemampuan developer untuk mengumpulkan kode pengenal yang berfungsi untuk melacak aktivitas pengguna dari aplikasi satu ke aplikasi lain dan browser yang mereka gunakan untuk mencari informasi. Kode pengenal tersebut dinamakan IDFA. Jika fitur app tracking transparency diterapkan, maka pengguna bisa menolak akses tersebut.

Tanggapan Google Tentang App Tracking Transparency

Menanggapi hal tersebut, Google sendiri menyatakan bahwa mereka tidak akan memaksakan para developer aplikasi untuk tidak melakukan hal tersebut. App Tracking Transparancy di Google tidak akan sekeras Apple.

Google memiliki alternatif lain yaitu berupa kontrol privasi yang rencananya akan ditambahkan pada browser Google Chrome.

Mengutip dari TechnoCodex, Upaya Google tersebut disebut sebagai upaya Privasi Sandbox. Kini sebagian dari project tersebut sedang berlangsung dan Google sudah mengambil langkah untuk menghapus cookie pihak ke tiga di browser Google Chrome.

Selain itu, Google juga sedang menyusun sebuah alat yang membuat pengiklan memungkinkan untuk menargetkan iklan kepada sekelompok pengguna daripada langsung ke individu.  

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *