Berutang Untuk Investasi dan Adopsi Kebiasaan Baru

Bismillah…

Saat pertama kali membaca ini, saya terdiam dan bingung harus merespon seperti apa. Berutang untuk investasi saham? Kegilaan macam apalagi ini.

Saya bingung, sebenarnya ekspektasinya orang-orang ini bagaimana? Apakah setelah beli saham lalu langsung profit saat itu juga?

Mungkin tidak perlu seorang Warren Buffet untuk memberikan nasihat ini, tapi akan saya ulangi di sini:

Bahkan ya sebisa mungkin jangan berutang untuk membeli apapun. Kecuali mungkin untuk sesuatu yang darurat atau terpaksa. Apalagi berutang untuk berinvestasi, apalagi di saham, sesuatu yang sangat tidak terprediksi.

Utang biasanya memiliki perjanjian waktu cicilan yang sudah disepakati, atau tempo tertentu. Misalnya per tanggal X. Namun profit atau keuntungan, baik itu dari keuntungan usaha, apalagi keuntungan investasi, tidak bisa di prediksi.

Profit tidak punya tanggal jatuh tempo.

Beberapa penasihat finansial juga mengatakan: Dana menganggur, atau yang tidak digunakan, baiknya lebih dulu diutamakan untuk dana cadangan atau untuk hal lain seperti sedekah. Sebelum akhirnya digunakan untuk investasi jika masih ada sisanya.

Atau kalau bahasa sederhananya, sisanya dari uang sisa. Uang paling nganggur dari yang nganggur. Atau uang dingin. Sudah di cadangkan, sudah di sedekahkan, eh masih ada sisa, nah itulah dana investasi.

Investasi menggunakan uang panas, atau uang yang kita gunakan untuk kebutuhan harian, lebih mirip ke judi daripada investasi.

Namun, mengubah pola menggunakan uang panas ke uang dingin, tidak semudah mengubah rekening bank. Mengubah pola ini sama dengan mengubah pola hidup.

Sisi Positif-nya

Kita bisa saja membahas apa yang menyebabkan semua kekacauan ini. Apakah itu rekomendasi influencer di medsos? Atau mungkin kurangnya literasi atau minat baca di Indonesia? Atau ya kurang dibangunnya budaya mengelola uang pada anak-anak Indonesia?

Tapi apa manfaatnya bagi kita untuk mencari mencari siapa yang salah?

Saya memiliki kebiasaan untuk menantang diri saya melihat sisi baik dari segala sesuatu, seburuk apapun itu. Termasuk pada kejadian ini.

Ada peningkatan 56% jumlah investor di Pasar Modal sepanjang 2020. Tapi bukan itu sisi positifnya.

Jika kita lihat lebih dalam, Ini artinya, kemungkinan ada jutaan orang di Indonesia yang mengisi waktu luang dan terkunci selama pandemi, untuk belajar investasi. Satu sisi ini sangat positif.

Saat pandemi seperti ini menurut saya adalah saat terbaik untuk mempelajari dan mencoba sesuatu yang baru, apalagi secara online. Apapun yang ingin Anda pelajari namun belum sempat pada tahun-tahun sebelumnya, maka tahun 2020 adalah tahun terbaik untuk mempelajarinya.

Kemungkinan Anda akan menemukan lebih banyak daripada yang ingin dan bisa Anda pelajari di internet. Jadi akan lebih besar kemungkinan untuk Anda kekurangan waktu daripada kekurangan materi pelajaran.

Sebagai contohnya, tahukah Anda ada kurikulum lengkap kuliah computer science di YouTube dengan total lebih dari 1000 video?

Atau mungkin Anda ingin ikut kuliah tentang tentang bagaimana caranya bom nuklir bekerja?

Kuliah tentang finansial dan investasi dari nol? Ya banyak.

Belajar Facebook Ads dari buat akun sampai mahir? Ya tentu saja ada.

Beberapa orang kemudian mulai mempraktekkan apa yang mereka pelajari, terutama investasi tadi. Nah, setelah mulai merasakan hasilnya, apa yang selanjutnya dilakukan? Tentu saja pamer ke medsos, seperti kata netizen:

“Apa artinya sukses tanpa bikin iri orang sekampung?”

Setelah melihat postingan profit ini, akhirnya membuat makin banyak orang penasaran, dan akhirnya ikut belajar tentang investasi.

Ini mungkin sisi positifnya menurut saya. Di satu sisi, ada banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan saat terjebak di rumah. Sebagian orang mungkin sedang sibuk main game, baca komik, atau seharian buat konten Tiktok yang tidak bermanfaat.

Di saat yang sama, ada jutaan yang memilih untuk belajar dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang bisa memberikan manfaat. Serta membuat kita memahami dan menguasai hal baru. Terlepas dari hasil belajarnya, orang-orang ini sudah juara dalam kamus saya.

Namun, materi saja tidak cukup, investasi membutuhkan disiplin. Materi pelajaran memang berkelimpahan, tapi dispilin?

Siapa Saya? Pentingnya Membentuk Identitas Baru

Mencoba sesuatu yang baru, apalagi sesuatu dengan resiko tinggi seperti investasi saham, tidak bisa “grusa grusu” atau terburu-buru. Apalagi dalam investasi yang melibatkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit, tidak bisa setengah-setengah.

Paling tidak, kita harus menguasai fundamental atau pemahaman dasar bagaimana sesuatu itu bisa bekerja bisa bermanfaat. Kita tidak bisa mendapatkan hal baru dengan menggunakan kebiasaan lama. Termasuk dalam investasi.

Cara paling sederhana untuk memahami ini ya: Membaca.

Baca dan pelajari semua yang Anda bisa sebelum mulai investasi. Jika pun harus investasi, baiknya investasilah ke diri sendiri dulu. Belajar, pahami ilmunya.

Konon katanya, anak Warren Buffet pernah terjatuh dari tangga di rumahnya. Warren tidak berdiri dari mejanya dan tetap membaca. Setelah selesai membaca, baru ia berdiri dan melihat kondisi anaknya. Ini bukan untuk ditiru, jika kisah ini benar, artinya Warren bukan orang tua yang baik. Namun disisi lain, ini menunjukkan betapa seriusnya Warren membaca.

Akan sangat banyak manfaatnya jika kita mengadopsi kebiasaan baik investor ini. Hampir semua investor sukses yang saya kenal itu suka membaca, apapun itu. Tidak jarang, membahas buku favorit adalah cara saya untuk memulai percakapan dengan investor yang belum kenal dengan saya. Mencairkan suasana dengan cepat. Cara ini hampir selalu berhasil.

Ini membuktikan ke saya pribadi bahwa membaca adalah aktivitas harian para investor.

Tapi kebiasaan ini sepertinya tidak diadopsi oleh investor-investor baru ini. Mungkin tidak sempat, sudah mau cuan saja tanpa proses. Tanpa belajar.

Daripada bertanya apa portofolio seorang investor sukses, lebih baik bertanya apa yang membuatnya bisa jadi investor seperti sekarang? Mungkin jawabannya akan lebih baik, walau belum tentu lebih mudah untuk diterima. Berapa banyak menurut Anda orang Indonesia yang mau sabar membaca?

Strategi bisa ditiru, tapi determinasi, kemauan belajar, keinginan untuk berkembang, dan ketahanan mental hampir tidak bisa dicontek.

Kita tidak bisa mendapatkan hal baru dengan menggunakan kebiasaan lama. Namun membentuk kebiasaan baru itu tidak mudah. Orang yang sudah terbiasa utang, akan sulit sekali untuk menahan diri untuk tidak berutang. Jadi sebelum terjun ke investasi, maka kebiasaan berutangnya sebaiknya diubah dulu.

Bagaimana caranya?

Menurut James Clear, sebelum memulai kebiasaan baru, kita mulai dulu dengan membentuk identitas kita. Siapa kita?

Contohnya, daripada mengatakan: Saya akan menulis satu buku tahun ini. Lebih baik berkata: Saya adalah seorang penulis. Dan tugas penulis adalah menulis setiap hari.

Daripada mengatakan: Saya akan hidup lebih sehat. Lebih baik mengatakan: Saya adalah pesepeda, atau saya adalah orang yang makan sehat. Karenanya setiap hari saya akan menyeleksi ketat apa yang saya makan.

Daripada mengatakan: Saya ingin investasi di saham A biar cuan, lebih baik mengatakan: Saya adalah seorang investor. Dan tugas investor adalah terus belajar, mengasah kepekaan, dan menganalisa.

Membentuk identitas ke diri sendiri, akan kemudian menentukan kebiasaan apa yang kita bangun nantinya. Contohnya, saya menulis ini bukan dengan tujuan agar ada yang baca, namun karena saya menyatakan diri sebagai seorang penulis. Maka saya menulis. Karena itu pekerjaan penulis.

Seringnya orang yang berhasil dalam sesuatu, itu punya satu set kebiasaan, bukan cuma karena mengikuti trend. Karenanya, jangan cuma ikut trendnya, tapi adopsi juga kebiasaannya.

Saat sesuatu menjadi mainstream, atau semakin dikenal oleh masyarakat, kita mulai melihat orang-orang yang tidak punya tujuan berusaha mengikuti trend ini dengan kebiasaannya yang lama.

Kunci Keberhasilan Finansial

Balik lagi ke diskusi tentang investasi, kebiasaan berutang yang dibawa ke investasi saham menurut saya adalah penyebab utama kejadian yang mengebohkan diatas. Jika seseorang hanya mempelajari sesuatu, maka kemungkinan tidak ada resikonya. Namun saat ia mulai mengamalkan atau mempraktekkan sesuatu yang ia pelajari tersebut, ada konsekuensi atau resiko yang datang bersama dengan tindakan tersebut.

Investasi, baik itu saham atau apapun akan membutuhkan disiplin tingkat tinggi. Karenanya menurut saya yang harus dibentuk terlebih dahulu adalah salah satu bentuk habit, kebiasaan. Seperti layaknya menabung, bedanya ini nabung saham. Dan hampir semua orang yang sudah mencapai tingkat finansial diatas rata-rata, hampir memiliki pola kebiasaan yang sama: Menunda kesenangan.

Hidup hemat adalah tindakan yang mulia, apapun profesi Anda. Saya kenal beberapa orang yang bisa memiliki kehidupan yang layak secara finansial, hanya dengan cara berhemat dan hidup dengan memiliki pengeluaran jauh dibawah pemasukan mereka dan banyak menunda kesenangan.

Godaan yang hampir selalu datang saat seseorang memiliki uang berlebih adalah: Merasa berhak untuk memberikan hadiah ke diri sendiri.

Saya juga pernah mengalami ini. Seorang teman pernah mendatangi saya dan menawarkan jam tangannya. Ia ingin menjual dengan harga di bawah pasaran untuk tambahan modal usahanya.

Saya tertarik, tapi, walaupun katanya “di bawah harga pasaran” harga jam ini masih di kisaran puluhan juta juga. Tapi dibanding harga pasarannya yang senilai ratusan juta, ini memang sangat murah, kesempatan ini mungkin tidak datang dua kali. Tapi, istri saya langsung mengingatkan:

”Pak Sandi (Sandiaga Uno) itu pake Casio.”

Seketika saya membatalkan untuk membeli jam itu.

Menunda kesenangan ini sangat menantang sekali. Butuh disiplin tingkat tinggi. Jika menunda kesenangan itu “mudah”, maka kita semua udah jadi investor miliarder dengan perut sixpack saat ini.

Tidak hanya Pak Sandi, investor kenamaan lain seperti: Warren Buffet memiliki pola hidup sederhana. Bahkan ia makan menu yang itu-itu saja setiap hari dan mengendarai mobil yang tergolong biasa saja.

Mungkin benar yang mengatakan investasi terbaik adalah investasi ke diri sendiri, atau investasi leher keatas (belajar). Mungkin jika ada sesuatu yang ingin saya tambahkan adalah investasi ke hati untuk menahan diri atau menunda kenikmatan.

-Fikry

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version