Bismillah…
Pada episode ini saya membahas satu pertanyaan yang datang berulang kali dari pemilik bisnis, yaitu kenapa promosi mereka berhenti di tontonan dan tidak pernah sampai ke pembelian.
Jawaban singkat untuk pertanyaan itu kiranya begini. Promosi kepada Gen Z jarang berhenti karena produksinya kurang mahal. Yang lebih sering terjadi, pesannya tidak menyentuh hal yang benar-benar sedang mereka pertimbangkan.
Saya menyiapkan episode ini dari satu laporan riset yang cukup panjang, berisi puluhan studi akademis, meta-analisis, survei industri, dan penelitian Indonesia. Catatan yang Anda baca sekarang adalah versi lengkap dari laporan itu, jadi isinya jauh lebih panjang daripada audionya. Seluruh rujukan yang dipakai laporan riset ini saya sertakan di bagian akhir tulisan ini, tanpa memotong satu entri pun.
Seperti biasa artikel ini didukung oleh KIRIM.EMAIL, layanan email infrastructure untuk bisnis di internet. Gunakan kode kupon KEPO untuk diskon 10% semua layanan di KIRIM.EMAIL.
Anda juga bisa mendengarkan melalui Spotify atau aplikasi podcast favorit Anda di halaman KIRIM.EMAIL Podcast.
Daftar Isi
Dengarkan KIRIM.EMAIL Podcast di aplikasi favorit Anda sekarang
8 Detik yang Tidak Pernah Diukur
Kalau Anda pernah duduk di ruang meeting bersama tim pemasaran, kemungkinan besar Anda sudah mendengar angka ini. Katanya, rentang perhatian Gen Z hanya 8 detik, lebih pendek daripada ikan mas.
Angka itu terdengar rapi dan gampang diingat, sehingga sering dipakai untuk membenarkan video yang makin pendek, logo yang makin cepat muncul, dan pesan yang makin tipis isinya. Saya memakai episode ini untuk memeriksanya, dan jawaban akhirnya saya taruh di bagian belakang tulisan ini.
Yang bisa saya sampaikan lebih dulu adalah cara membacanya dengan lebih tenang. Perhatian manusia bukan satu tombol dengan ukuran tetap, karena orang yang sama bisa mengabaikan iklan dalam 1 detik lalu menonton ulasan selama 1 jam ketika topiknya dianggap penting.
Data Pew Research Center atas 1.391 remaja Amerika Serikat berusia 13 sampai 17 tahun menunjukkan justru intensitas yang tinggi, dengan YouTube, TikTok, dan Instagram menjadi tempat mereka menghabiskan waktu paling banyak. Sekitar 46% dari mereka mengaku berada di internet hampir sepanjang waktu.
Jadi kalimat yang lebih jujur untuk dipakai di ruang meeting bunyinya seperti ini. Gen Z cepat menilai apakah sebuah tawaran punya nilai bagi mereka, karena pilihan yang tersedia memang sangat banyak.
Siapa yang Disebut Gen Z di Indonesia
Badan Pusat Statistik mendefinisikan Gen Z sebagai penduduk yang lahir antara 1997 sampai 2012. Sensus Penduduk 2020 menghitung jumlah mereka sekitar 75 juta orang, atau 27,94% dari seluruh penduduk Indonesia.
Pada 2026, kelompok ini kira-kira berusia 14 sampai 29 tahun. Di dalam rentang itu ada pelajar yang keputusannya masih dibantu keluarga, ada mahasiswa yang baru punya uang sendiri, dan ada pekerja awal karier yang sudah menanggung cicilan.
Perbedaan tahap hidup itu jauh lebih berguna untuk membagi audiens daripada label generasi. Sebagai contoh, 2 orang berusia 25 tahun bisa punya masalah, daya beli, kota, dan kebiasaan belanja yang sama sekali berbeda.
Kesalahan paling mahal yang saya lihat bukan pada pilihan channelnya, melainkan pada satu baris yang terlalu cepat ditulis, yaitu kalimat “produk kami cocok untuk anak muda”.
Kepercayaan Lebih Menentukan daripada Kemewahan Produksi
Bila Anda hanya punya waktu untuk membaca satu bagian dari catatan ini, saya sarankan bagian yang ini.
Survei Deloitte atas 3.595 konsumen Amerika berusia 14 tahun ke atas menemukan bahwa 63% responden Gen Z menyebut iklan sosial dan ulasan pengguna sebagai hal yang paling memengaruhi keputusan pembelian mereka. Angka itu tetap hasil laporan diri, bukan bukti transaksi, tapi arahnya konsisten dengan studi lain.
Meta-analisis atas 71 paper dan 135 eksperimen menemukan bahwa influencer bekerja terutama melalui kredibilitas dan daya tarik, sedangkan besarnya jumlah pengikut hanya bertugas memoderasi hasilnya. Meta-analisis berikutnya atas 53 studi dan 250 ukuran efek menempatkan kredibilitas, kepercayaan, keahlian, keaslian, dan kecocokan sebagai pintu masuk utama perubahan sikap.
Kesimpulan lintas budaya atas 91 studi juga menemukan hal yang sama, yaitu kredibilitas sumber tetap kokoh meski budaya, platform, dan model bisnis konten ikut memoderasi hasilnya.
Di Indonesia, pengaruh yang sama terlihat pada 350 pengguna Shopee dari kalangan Gen Z di Jabodetabek. Rating, review, dan trust semuanya menaikkan niat beli, dan rating memberi pengaruh paling besar di antara ketiganya.
Artinya cukup sederhana untuk diingat semua orang. Rating, review terperinci, demonstrasi pemakaian, perbandingan produk, kebijakan retur, dan identitas penjual yang jelas bekerja lebih kuat daripada kalimat “kualitas terjamin” yang tidak bisa diperiksa siapa pun.
Pembuat Konten Bekerja sebagai Penerjemah, Bukan Papan Iklan
Pembuat konten yang tepat menjelaskan produk dengan bahasa yang dipakai audiensnya sendiri, termasuk bagian yang tidak enak didengar.
Di Indonesia, studi atas 337 pengguna YouTube dari kalangan Gen Z menemukan bahwa hubungan parasosial berpengaruh positif pada niat beli, dan kedekatan itu dibangun oleh interaktivitas, keterbukaan pribadi, serta reputasi pembuatan konten. Studi atas 400 Gen Z perkotaan di Reels, TikTok, dan Shorts menemukan bahwa relatability dan trust bekerja melalui interaksi parasosial, dengan cerita, sesi tanya jawab, dan siaran langsung sebagai jalur yang memperkuatnya.
Pilihan besar dan kecil punya tugas yang berbeda. Sebuah studi atas 371 pengguna Instagram berusia 18 sampai 25 tahun menemukan bahwa micro-influencer lebih kuat pada niat beli, sedangkan nano-influencer memberi variasi engagement yang lebih tinggi.
Kedekatan tidak otomatis berubah menjadi pembelian. Penelitian di Makassar menemukan pengaruh langsung hubungan parasosial tidak signifikan, dan jalurnya berjalan melalui customer equity. Studi lain bahkan tidak menemukan perbedaan niat beli hanya karena tingkat kedekatannya berbeda.
Satu temuan dari India atas 303 Gen Z melengkapi gambarannya, yaitu kredibilitas dan inspirasi berpengaruh signifikan, sementara social presence sendiri tidak.
Kalau saya harus membuat daftar periksa untuk memilih pembuat konte, isinya kira-kira begini.
- Kecocokan audiens dengan kategori produk, sekitar 25% bobotnya.
- Kredibilitas dan keahlian pada bidang itu, sekitar 20%.
- Kesesuaian nilai merek dengan gaya pembuat konten, sekitar 15%.
- Kualitas percakapan di kolom komentar, sekitar 15%.
- Kemampuan mendemonstrasikan produk dan bercerita, sekitar 10%.
- Riwayat kerja sama dengan merek lain dan reputasinya, sekitar 10%.
- Keandalan produksi dan keamanan merek, sekitar 5%.
Kemitraan berulang biasanya lebih baik daripada kerja sama sekali lalu hilang. Namun keterbukaan soal hubungan berbayar tetap penting, karena telaah sistematis menunjukkan pengungkapan itu bisa menekan engagement jangka pendek sekaligus memperkuat trust dalam jangka lebih panjang.
Volvo Memperlihatkan Kemudi Truknya kepada Dunia
Bagian ini contoh paling jelas untuk prinsip bukti sebelum klaim, dan saya memakai satu iklan yang mungkin sudah Anda kenal.
Iklan yang saya maksud adalah film pendek Volvo berjudul The Epic Split dari 2013. Isinya sederhana sekaligus sulit dipercaya, karena Jean-Claude Van Damme melakukan split di antara 2 truk Volvo FM yang mundur sejajar, sementara kamera merekam adegan itu di area tertutup.
Video resminya bisa Anda tonton langsung di bawah ini.
Yang dijual di film itu bukan truknya secara langsung, melainkan satu fitur bernama Volvo Dynamic Steering, dan manfaatnya dibuat benar-benar terlihat oleh mata penonton. Volvo menyebut adegan itu sebagai demonstrasi presisi dan kestabilan arah kemudi.
Saya perlu menambahkan satu catatan supaya kita tidak salah membaca. Saat saya memeriksa video resminya, jumlah tayangannya sudah sekitar 128 juta, dan angka itu ukuran jangkauan, bukan bukti bahwa kemudi truknya bagus di semua kondisi jalan.
Yang bisa ditiru dari contoh itu hanya satu kalimat perintah, yaitu jangan hanya mengatakan produk Anda cepat, awet, atau aman. Buat orang bisa menyaksikannya lewat demonstrasi, perbandingan, hasil pemakaian, atau uji coba yang jujur soal batasannya.
Bukti Sosial Bekerja ketika Ketidakpastiannya Tinggi
Ketika risiko terasa besar, orang mencari bukti dari orang lain sebelum memutuskan. Gen Z melakukan hal yang sama dengan cara yang lebih rapi, yaitu membaca rating, menyelami ulasan terperinci, dan memeriksa siapa yang menjual.
Telaah atas 13 artikel menemukan bahwa Gen Z cenderung memilih konten buatan pengguna yang terasa autentik dan membangkitkan emosi positif, karena realisme kontennya membantu membangun trust. Studi lain melengkapi temuan itu dengan menunjukkan bahwa konten buatan pengguna membentuk persepsi keaslian merek dan respons konsumen berikutnya.
Kualitas ulasan lebih bernilai daripada jumlahnya, terutama pada kategori yang butuh penjelasan panjang. Pertanyaan yang layak Anda ajukan ke pelanggan bukan hanya berapa bintangnya, tetapi bagaimana rasanya setelah 2 minggu dipakai dan siapa yang sebaiknya tidak membeli produk ini.
Ulasan negatif yang dijawab dengan terbuka bisa menjadi bukti tambahan, sedangkan kritik yang dihapus hanya memindahkan percakapan itu ke tempat yang tidak bisa Anda jaga.
Partisipasi, Pilihan, dan Rasa Dikendalikan
Bagian ini menjelaskan kenapa tekanan yang berlebihan membuat orang menjauh, dan bukan hanya membuat mereka melewati iklan.
Survei atas 995 pengguna ponsel dari kalangan Gen Z di Pakistan menemukan bahwa iklan yang terasa mengganggu memicu rasa marah dan ancaman atas kebebasan memilih, lalu berujung pada kebiasaan melewati, membisukan, dan meninggalkan tayangan. Penelitian atas 266 pengguna aplikasi RED menemukan hal serupa, yaitu penghindaran terjadi lewat pikiran negatif dan rasa kesal.
Kabar baiknya, rasa kendali bisa dikembalikan. Eksperimen menunjukkan opsi melewati iklan dan hitungan waktu dapat memperbaiki preferensi penonton, walau sebagian fitur kontrol justru menurunkan ingatan mereka pada merek.
Contoh nyatanya untuk prinsip ini datang dari LEGO. Lewat LEGO Ideas, penggemar mengirim konsep dan mengumpulkan dukungan komunitas. Konsep Women of NASA mencapai 10.000 pendukung dalam 15 hari, ditinjau bersama komunitas, lalu dirilis sebagai set resmi pada 2017.
Partisipasi seperti itu baru berarti kalau aturan mainnya jelas, jalurnya nyata, dan hasilnya benar-benar bisa dipakai. Angka 10.000 pendukung itu menunjukkan partisipasi, bukan bukti penjualan atau keberhasilan komersial, dan itu tetap layak dicatat sebagai batas.
Beberapa kebiasaan yang saya pakai supaya promosi tidak terasa menekan.
- Ganti kalimat perintah dengan pilihan, plus penjelasan konsekuensi yang jujur.
- Sebutkan siapa yang cocok memakai produk ini dan siapa yang sebaiknya lewat.
- Beri kendali atas frekuensi, waktu, dan channel yang dipakai untuk menghubungi Anda.
- Jangan pernah menyamarkan iklan sebagai rekomendasi pribadi tanpa keterangan.
- Hindari iklan yang muncul tiba-tiba, bersuara sendiri, dan diulang tanpa batas.
- Beri kemudahan untuk membandingkan, mencoba, membatalkan, dan mengembalikan.
Personalisasi yang Membantu dan yang Mengintai
Personalisasi itu pedang bermata dua, dan bedanya terletak pada manfaat, izin, dan kendali.
Studi atas 414 Gen Z di Amerika Serikat menemukan bahwa manfaat personalisasi berhubungan positif dengan loyalitas, sementara kekhawatiran soal privasi dan rasa terganggu berhubungan negatif dengan keduanya. Survei atas 324 responden dan 15 wawancara lanjutan menemukan bahwa kegunaan yang terasa menaikkan niat mengklik, sedangkan kekhawatiran privasi menurunkannya.
Wawancara dengan Gen Z India menemukan bahwa partisipan tidak menolak personalisasi, tetapi mereka meminta izin, penjelasan, dan kendali atas datanya. Temuan senada muncul pada kajian persepsi privasi Gen Z di media sosial serta kajian paradoks privasi pada iklan yang dipersonalisasi.
Cara yang saya pakai untuk membedakan keduanya cukup sederhana. Kalimat “ini membantu saya sekarang” menguatkan respons, sedangkan kalimat “kok mereka tahu soal saya” memicu rasa diawasi.
Contoh personalisasi yang sehat datang dari Ruangguru. Lewat fitur Adapto, siswa yang menjawab “Bingung” di tengah video akan mengulang materi, sedangkan yang menjawab “Paham” melanjutkan ke bagian berikutnya. Mereka juga bisa memilih penjelasan yang lebih cepat atau lebih rinci.
Yang perlu dicatat, sumber menjelaskan cara kerja fitur itu tetapi tidak membuka ukuran hasil belajarnya. Jadi contoh ini menunjukkan desain yang membantu, bukan bukti bahwa pendekatan itu menaikkan nilai ujian.
Kelangkaan yang Benar-Benar Terbatas
Kelangkaan memang mempercepat keputusan, dan sekaligus menaikkan risiko penyesalan setelah pembelian.
Studi atas 420 Gen Z di Vietnam menemukan bahwa kelangkaan mengaktifkan rasa takut ketinggalan dan gairah bersaing, lalu mendorong orang mengikuti kerumunan dan membeli secara impulsif. Kemampuan menahan diri memoderasi sebagian jalur itu.
Studi lain atas 120 responden muda melaporkan bahwa peringatan stok menipis, hitungan waktu, dan edisi terbatas menaikkan dorongan membeli, dan sekaligus menaikkan penyesalan yang mereka bayangkan.
Contoh yang saya anggap jujur adalah BTS Meal dari McDonald’s Indonesia pada 2021. Kelangkaan di kampanye itu adalah periode kolaborasinya, bukan klaim stok tipis yang dibuat-buat.
Namun layanan ikut menjadi bagian dari ceritanya, karena BBC melaporkan 32 gerai di Jakarta sempat ditutup sementara akibat lonjakan pesanan. Antrean yang meledak bukan kemenangan penuh kalau pengalaman pelanggan rusak di hari yang sama.
Kalau Anda ingin memakai urgensi, pakai batas yang bisa dijelaskan alasannya, seperti jumlah batch, kapasitas kelas, musim, tiket, atau masa kolaborasi. Siapkan juga layanannya, karena permintaan yang datang lebih cepat daripada kesiapan hanya memindahkan masalah ke tempat lain.
Dan yang paling penting, ukurlah pembatalan, penyesalan, keluhan, serta pembelian ulang, bukan hanya angka konversi hari itu.
Purpose Harus Terlihat pada Cara Kerja Sehari-hari
Gen Z memperhatikan isu yang lebih besar daripada produk, tetapi perhatian itu belum cukup untuk membuat mereka membayar lebih.
Studi atas 120 Gen Z di India menemukan bahwa trust, kredibilitas label, dan keterbukaan membantu kesediaan membayar lebih untuk kemasan berkelanjutan, sementara harga yang tinggi dan risiko pengaburan klaim justru menghambatnya. Studi atas 202 responden pada kategori fashion menemukan bahwa pengakuan dari teman sebaya membantu menormalkan pilihan berkelanjutan, sedangkan penilaian atas keberlanjutan merek itu sendiri berhubungan lebih lemah dengan niat beli.
Kajian tentang tipologi konsumsi berkelanjutan dan alasan di balik pilihan ramah lingkungan menambah catatan yang sama, yaitu jarak antara sikap dan perilaku.
Contoh yang saya pakai di episode ini adalah Waste4Change. Perusahaan itu menjalankan layanan pengelolaan sampah dan fasilitas pemulihan material, sehingga tujuan lingkungannya terlihat pada pekerjaan harian, bukan hanya pada narasi kampanye.
Laporan dampaknya pada 2025 mencatat 38,62 juta kilogram sampah yang terkumpul. Angka itu berasal dari laporan perusahaan sendiri, jadi ia belum menjadi audit independen, dan itu tetap layak disampaikan apa adanya.
Kalau merek Anda membawa pesan besar, tunjukkan prosesnya, mitranya, fasilitasnya, ukuran kemajuannya, dan laporannya secara berkala. Purpose yang tidak terlihat pada cara bisnis bekerja akan terbaca sebagai tema kampanye musiman.
Satu Gen Z Itu Tidak Ada
Bagian ini mungkin yang paling membebaskan sekaligus paling merepotkan, karena tidak ada satu resep yang cocok untuk 75 juta orang.
McKinsey menggambarkan Gen Z sebagai pencari kebenaran yang menghargai ekspresi diri dan menolak satu label tunggal. Riset lintas 18 negara menemukan bahwa mereka bisa sekaligus sadar nilai dan sadar harga, dengan kemauan membayar lebih hanya pada kategori yang dianggap penting.
Karena itu pertanyaan yang kita pakai perlu diganti. Daripada bertanya apa maunya Gen Z, lebih berguna bertanya siapa yang punya masalah ini, pada tahap hidup apa mereka, dan bukti apa yang mereka perlukan untuk memilih.
Contoh paling sederhana untuk logika ini tetap Ruangguru, karena 2 siswa sebaya belum tentu butuh penjelasan yang sama. Yang satu butuh pengulangan, yang satu butuh versi yang lebih cepat, dan sistemnya membedakan keduanya berdasarkan jawaban di tengah video.
Setiap Channel Punya Tugas yang Berbeda
Kalau ada yang bertanya channel mana yang paling penting untuk Gen Z, jawaban jujurnya adalah tidak ada satu channel yang berdiri sendiri. Yang bekerja adalah rangkaian, yaitu ditemukan, ditelusuri, diverifikasi, dibeli, lalu dirawat.
Temuan lintas format di Indonesia memperlihatkan bahwa banyak orang menemukan topik lewat video pendek, lalu mencari versi panjangnya ketika topik itu terasa penting. Riset Google mencatat 90% Gen Z di Indonesia aktif memakai YouTube Shorts, dan sebagian besar perjalanan belanja mereka melewati lebih dari satu format.
Skala channel visual di Indonesia memang besar, karena DataReportal mencatat jangkauan iklan TikTok, Instagram, dan YouTube yang mencapai puluhan sampai ratusan juta akun. Angka itu adalah jangkauan iklan, bukan jumlah pengguna aktif, dan metodologinya pernah direvisi oleh penyedianya sendiri.
Peran YouTube lebih dalam daripada sekadar tayangan. Riset Google di Indonesia menemukan bahwa 95% penonton Gen Z merasa informasi di YouTube memberi keyakinan saat mereka membeli, dan ulasan dari pembuat konten menjadi salah satu sumber keputusan mereka.
Pencarian menangkap niat yang sudah terbentuk, dan itulah sebabnya channel ini tidak boleh dibiarkan kosong. Beberapa halaman yang layak Anda miliki antara lain perbandingan produk dengan alternatifnya, ulasan pemakaian jangka panjang, penjelasan harga dan biaya tersembunyi, tanya jawab soal risiko, serta panduan pemakaian.
Perdagangan langsung dan sosial menyatukan demonstrasi, tanya jawab, dan pembelian dalam satu waktu. Studi atas 403 Gen Z Jabodetabek menemukan bahwa fitur teknologi pada live commerce membentuk nilai praktis, nilai hiburan, dan nilai sosial, sedangkan kualitas hubungan berhubungan kuat dengan niat beli.
Ada 2 studi Indonesia lain yang memberi catatan penting, yaitu fitur sosial tidak selalu langsung menaikkan trust atau niat beli, dan kredibilitas influencer tidak selalu menjadi jalur utamanya. Karena itu siaran langsung yang baik butuh host yang menguasai produk, demonstrasi yang jujur, stok dan harga yang jelas, serta layanan purna jual yang siap.
Email sering dianggap channel lama, sementara datanya justru berkata sebaliknya. Survei lintas negara menemukan sekitar 2/3 responden Gen Z memilih email untuk menerima promosi, dan studi pada usia 18 sampai 24 tahun menemukan 66% lebih sering membuka email lewat ponsel.
Saya menyebut email sebagai jalur hubungan yang Anda miliki sendiri, bukan pengganti channel sosial. Setelah orang menemukan Anda di channel ramai, email adalah tempat paling tenang untuk melanjutkan percakapan atas kehendak mereka sendiri.
- Buat setiap email hanya mengejar satu tujuan, dan pastikan tampilannya nyaman di ponsel.
- Tulis subject line yang spesifik, bukan kalimat yang memancing rasa penasaran.
- Bagi audiens berdasarkan perilaku dan preferensi yang mereka sampaikan sendiri.
- Sediakan rangkaian pembuka yang langsung memberi manfaat, bukan sekadar menyapa.
- Sertakan bukti sosial dan pembuat konten yang memang relevan dengan isi email.
- Beri pusat preferensi untuk mengatur topik dan frekuensi kiriman.
- Pakai pesan yang dipicu oleh perilaku, bukan kiriman massal setiap minggu.
- Rangkai pesannya dengan WhatsApp atau notifikasi aplikasi tanpa pengulangan berlebih.
Podcast memberi kedalaman dan kedekatan yang sulit ditiru video pendek, walau buktinya belum sekuat dugaan orang. Studi atas 200 pendengar perkotaan di India menemukan bahwa frekuensi mendengar berhubungan dengan kesadaran merek, tetapi tidak dengan niat beli, dan kredibilitas host tidak signifikan pada trust dalam sampel itu. Laporan IAB sendiri menyebut bahwa pendengar menghargai host yang benar-benar memakai produknya.
Kalau Anda memakai podcast, bekali host dengan pengalaman memakai produk dan fakta kuncinya, jangan dengan naskah kata per kata. Sediakan satu tautan atau kode yang mudah diingat supaya tindakannya bisa diukur.
Gim dan gamifikasi memberi perhatian yang fokus bila integrasinya terasa wajar. Riset GWI bersama Gameloft menemukan banyak pemain gim ponsel dari kalangan Gen Z berada dalam kondisi fokus dan emosi positif saat bermain, walau ukuran sampelnya terbatas. Data YouGov memperlihatkan Gen Z paling sering terpapar iklan bergaya permainan dan relatif terbuka terhadapnya.
Toko fisik juga masih berperan, karena McKinsey menemukan Gen Z menyukai pengalaman di toko sekaligus mengharapkan pengalaman digital yang rapi. Untuk Indonesia, peran itu bisa berupa kesempatan mencoba produk, acara komunitas, kunjungan kampus, atau tempat pengambilan pesanan.
Contoh kerja lintas channel yang saya pakai adalah Toyota Astra Motor, yang bekerja bersama Merkle dan Google Cloud untuk menyatukan data dealer, website, aplikasi, dan media sosial. Laporan penyedianya menyebut konversi prospek menjadi pembelian naik 4% dan waktunya menjadi 20% lebih cepat, dan angka itu berasal dari laporan perusahaan, bukan dari audit independen.
Pesan yang Berlapis, Bukan Sekadar Pendek
Pesan untuk Gen Z tidak harus selalu sangat pendek, karena yang lebih penting adalah kepadatan maknanya.
Susunan yang saya pakai punya 6 lapis, mulai dari masalah yang langsung terasa, pengakuan atas situasi pembaca, satu manfaat utama yang konkret, bukti yang bisa diperiksa, pengurang risiko, sampai ajakan yang tetap memberi pilihan.
Contoh susunan seperti itu kira-kira begini. Sering kehilangan pelanggan setelah promo pertama berakhir? Lihat 3 titik kebocoran dalam 30 detik, karena dashboard ini memperlihatkan pelanggan yang mulai pasif, lalu mengirim rangkaian pesan susulan secara otomatis. Silakan coba pada 100 kontak pertama, dan ekspor datanya kapan saja Anda mau.
Susunan seperti itu lebih kuat daripada kalimat “platform terbaik untuk Gen Z”, karena ia menyebut masalah, manfaat, cara kerjanya, batas percobaannya, dan rasa kendali yang tetap di tangan pembaca.
Kebiasaan yang Membuat Promosi Kehilangan Kepercayaan
Ada beberapa kebiasaan yang tampak menaikkan angka hari ini, dan justru merusak kepercayaan besok.
- Memaksakan slang dan tren yang tidak dipakai audiensnya sendiri.
- Memilih pembuat konten yang tidak paham kategorinya, lalu berharap endorsement bekerja.
- Membawa klaim purpose tanpa bukti operasional di belakangnya.
- Menargetkan ulang terlalu sering sampai orang merasa diawasi.
- Memasang hitungan waktu yang diulang dan klaim stok yang tidak benar.
- Menyembunyikan kerja sama berbayar dari audiens yang menontonnya.
- Menghapus kritik yang sah, sehingga percakapan negatifnya pindah ke channel lain.
- Menjual hanya dengan diskon, sampai pelanggan terlatih menunggu potongan harga.
- Memotong iklan televisi menjadi format vertikal tanpa menyesuaikan bahasanya.
- Memakai satu persona tunggal untuk seluruh audiens yang berbeda-beda.
- Menjadikan jumlah suka sebagai ukuran keberhasilan utama.
Skor TRUST Sebelum Uang Iklan Keluar
Untuk memeriksa kampanye sebelum tayang, saya memakai 5 pertanyaan yang huruf depannya membentuk kata TRUST.
- Truth, apakah setiap klaim bisa dibuktikan dan batasannya diakui terbuka.
- Relevance, apakah pesan ini menjawab masalah atau identitas satu segmen tertentu.
- User proof, apakah ada ulasan, konten pengguna, demonstrasi, atau pengalaman nyata.
- Self-direction, apakah audiens punya pilihan, kontrol, dan ajakan yang tidak memaksa.
- Transaction ease, apakah harga, risiko, pembayaran, pengiriman, dan layanan purna jualnya jelas.
Nilai setiap bagian dengan angka 1 sampai 5 sebelum produksi dimulai. Kampanye dengan kail yang kuat tetapi skor Truth dan Self-direction rendah bisa mendatangkan klik cepat sekaligus mengikis kepercayaan, dan itu harga yang harus dibayar mahal.
Setelah tayang, ukurlah dengan memisahkan tahapnya. Perhatian, ingatan pesan, kepercayaan, pertimbangan, pembelian, pembelian ulang, dan rekomendasi tidak bisa digabung menjadi satu angka.
Kalau memungkinkan, bandingkan kelompok yang melihat iklan dengan kelompok pembanding. Pengujian yang layak dicoba antara lain demonstrasi melawan testimoni, penekanan pada manfaat yang didapat melawan penghindaran kerugian, pembuat konten expertise melawan pembuat konten gaya hidup, kemitraan sekali jalan melawan kemitraan 3 bulan, dan pemakaian hitungan waktu yang nyata melawan tanpa hitungan waktu.
Jangan lupa memantau pagar pengamannya, yaitu pembatalan, pengembalian dana, keluhan, berhenti dari daftar, dan ketergantungan pada potongan harga.
Kejutan yang Saya Tahan Sampai Bagian Akhir
Sekarang saya bayar utang di bagian awal tadi, yaitu soal 8 detik.
Setelah membaca seluruh laporan itu, saya tidak menemukan satu pun dasar yang kuat untuk menjadikan angka 8 detik sebagai patokan. Yang saya temukan justru sebaliknya, karena bukti menunjukkan orang yang sama bisa mengabaikan satu iklan dengan cepat dan menghabiskan waktu berjam-jam pada hal yang dianggap penting.
Ada satu kejutan lain yang lebih mengganggu saya ketika menyusun episode ini. Saya masuk ke riset ini dengan dugaan bahwa jawabannya adalah satu channel ajaib berupa video pendek, dan ternyata tidak ada satu channel pun yang muncul sebagai pemenang tunggal.
Yang muncul berulang kali justru hal yang jauh lebih sederhana, yaitu kepercayaan yang dibangun dari bukti, dan kemudahan untuk mengambil langkah berikutnya. Channel visual kuat untuk ditemukan, pencarian dan ulasan kuat untuk diyakinkan, perdagangan langsung kuat untuk mempermudah pembelian, dan jalur yang Anda miliki sendiri kuat untuk merawat hubungan setelahnya.
Ada satu hal yang nyaman untuk didengar, dan sekaligus tidak nyaman untuk diakui. Semua ini tidak menuntut trik baru, karena yang berubah bukan caranya, melainkan tempat orang menaruh kepercayaan mereka.
Penutup: 3 Hal yang Layak Anda Bawa Pulang
Kalau benang merahnya ditarik dari seluruh episode, isinya bisa dipadatkan menjadi 3 hal saja.
Pertama, berhenti memakai persona tunggal, dan mulailah dari satu masalah nyata pada satu tahap hidup tertentu. Kedua, bangun bukti sebelum klaim, karena rating, review, demonstrasi, dan keterbukaan soal batas produk bekerja lebih kuat daripada kalimat superlatif. Ketiga, beri audiens pilihan yang benar-benar bisa dipakai, karena rasa kendali adalah bagian dari pengalaman yang baik.
Kalau hanya boleh menyimpan satu kalimat dari episode ini, saya memilih kalimat berikut. Promosi kepada Gen Z bukan soal terlihat muda, melainkan soal terlihat bisa dipercaya saat mereka sedang mempertimbangkan.
Ada satu pertanyaan yang layak Anda bawa pulang setelah mendengarkan episode ini. Bukti apa yang hari ini bisa Anda tunjukkan kepada calon pembeli, tanpa harus menambah satu kalimat pun tentang kehebatan produk Anda?
Ringkasan: Psikologi Promosi kepada Gen Z
Gen Z di Indonesia besar dan beragam. Sensus 2020 mencatat sekitar 75 juta orang atau 27,94% penduduk, dengan rentang usia 14 sampai 29 tahun pada 2026, sehingga satu persona tidak akan cukup.
Kepercayaan mengungguli kemewahan produksi. Deloitte mencatat 63% Gen Z menyebut iklan sosial dan ulasan sebagai hal yang paling memengaruhi pembelian, dan rating memberi pengaruh paling besar pada studi Shopee Jabodetabek.
Pembuat konten bekerja lewat kredibilitas, bukan jumlah pengikut. Meta-analisis lintas budaya dan kajian lintas studi menempatkan kredibilitas, keahlian, dan kesesuaian nilai sebagai pintu utama perubahan sikap.
Kedekatan tetap butuh jalur pembelian. Hubungan parasosial bisa memengaruhi niat beli, tetapi beberapa studi Indonesia menunjukkan jalurnya bergantung pada brand equity, harga, dan kemudahan bertransaksi.
Pilihan mengalahkan tekanan. Iklan yang terasa mengganggu memicu rasa marah dan penghindaran, sedangkan opsi melewati iklan serta hitungan waktu mengembalikan rasa kendali.
Kelangkaan punya biaya psikologis. Kelangkaan yang nyata mempercepat keputusan, sementara kelangkaan palsu menaikkan penyesalan dan merusak kepercayaan.
Setiap channel punya satu tugas. Video pendek menemukan, pencarian dan ulasan meyakinkan, perdagangan langsung mempermudah pembelian, dan jalur yang dimiliki sendiri merawat hubungan.
Ukur perubahan yang benar. Pisahkan perhatian, ingatan, kepercayaan, pertimbangan, penjualan, pembelian ulang, dan rekomendasi, lalu pantau pembatalan serta keluhan sebagai pagar pengaman.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Benarkah rentang perhatian Gen Z hanya 8 detik?
Menurut laporan yang saya baca, angka itu tidak punya dasar yang kuat dan lebih sering dipakai sebagai bahan presentasi. Yang lebih bisa dipertahankan adalah kenyataan bahwa mereka cepat menilai nilai sebuah tawaran, karena pilihan yang tersedia memang sangat banyak.
Channel mana yang paling penting untuk promosi ke Gen Z?
Tidak ada satu channel yang paling penting, karena setiap channel memikul tugas yang berbeda. Yang lebih menentukan adalah kesinambungan pesannya, mulai dari saat mereka menemukan produk sampai saat mereka dirawat sebagai pelanggan.
Apakah pembuat konten besar masih layak dipakai?
Pembuat konten besar tetap layak dipakai, terutama untuk membangun kesadaran pada kategori yang luas. Untuk percakapan dan keyakinan membeli, pembuat konten kecil dan menengah sering lebih kuat ketika kecocokan kategorinya benar.
Berapa banyak pembuat konten yang sebaiknya dilibatkan?
Jumlahnya bergantung pada tujuan dan anggaran Anda, dan bukan pada satu angka patokan. Yang penting adalah mengukur hasilnya per pembuat konten dengan kode atau halaman berbeda, supaya keputusan berikutnya punya dasar.
Apakah personalisasi masih aman dipakai sekarang?
Personalisasi tetap aman selama manfaatnya jelas, izinnya diberikan, dan kendalinya ada di tangan pengguna. Yang membuat orang menjauh adalah data sensitif, kejutan yang tidak pernah mereka berikan, dan pengulangan yang berlebihan.
Bagaimana cara mengukur keberhasilan kampanye semacam ini?
Pisahkan tahapannya lebih dulu, lalu bandingkan dengan kelompok pembanding bila memungkinkan. Setelah itu pantau pagar pengamannya, yaitu pembatalan, pengembalian dana, keluhan, berhenti dari daftar, dan ketergantungan pada potongan harga.
Untuk bisnis kecil, mulai dari mana?
Mulailah dari daftar kontak yang benar-benar Anda miliki, karena jalur ini tidak bergantung pada algoritma siapa pun. Rapikan dulu datanya, lalu kirim satu pesan yang berguna, dan ukur hasilnya dari langkah berikutnya yang benar-benar diambil orang.
Membangun List Berkualitas dengan Artikel Berbayar
Beberapa waktu lalu kami membuka fitur Artikel Berbayar di Buletin, yaitu model bayar per artikel untuk tulisan panjang. Anda menentukan sendiri harga tiap artikelnya, bisa menaruh sebagian isi sebagai teaser yang bisa dibaca gratis, dan sisanya terbuka setelah pembaca membayar. Bagi saya, pembaca yang rela membayar itulah yang paling layak Anda rawat di list email KIRIM.EMAIL. Silakan coba fiturnya di https://buletin.co/buletin/artikel-berbayar.
Tentang Episode Ini
Kepo KIRIM.EMAIL Podcast episode ini didukung oleh KIRIM.EMAIL, layanan pengiriman email untuk bisnis di internet. Gunakan kode kupon KEPO untuk diskon 10% semua layanan di KIRIM.EMAIL.
Semua referensi, data, dan catatan yang dipakai di episode ini bisa Anda cek di daftar pustaka di bawah ini.
Terima kasih sudah membaca sampai selesai, dan sampai jumpa di episode berikutnya. Salam hangat dari Fikry Fatullah.
Daftar Pustaka dan Notes
Semua referensi dan data yang dipakai di episode ini tersedia di daftar berikut:
A. Perilaku, Identitas, dan Keputusan Pembelian Gen Z
- Sustainability (2024) ‘Sustainable purchasing behaviors in Generation Z: The role of social identity and behavioral intentions in the Saudi context’. https://www.mdpi.com/2071-1050/16/11/4478
- Wiley Online Library (n.d.) ‘Understanding Gen Z consumers: A typology of (un)sustainable…’. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/mar.70013
- McKinsey & Company (n.d.) ‘What is Gen Z?’. https://www.mckinsey.com/featured-insights/mckinsey-explainers/what-is-gen-z
- McKinsey & Company (n.d.) ”True Gen’: Generation Z and its implications for companies’. https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/true-gen-generation-z-and-its-implications-for-companies
- McKinsey & Company (n.d.) ‘How today’s consumers are spending their time and money’. https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/how-todays-consumers-are-spending-their-time-and-money
- Journal of Advertising, Media, and Communication (2024) ‘Branding beyond the rainbow: An exploration of authentic advertising for Gen Z’s LGBTQ+ community’. https://muse.jhu.edu/article/939144
- Psikoneo (2026) ‘Beyond transactions: How motivation, trust, and emotion shape online shopping behavior of Generation Z in Indonesia’. https://e-journals.unmul.ac.id/index.php/psikoneo/article/view/24351
- Journal of Business and Management Studies (2025) ‘Changing Generation Z consumption patterns and their implications’. https://journal.institutemandalika.com/index.php/mjbms/article/download/234/218/1407
- Malque Publishing (2025) ‘Decision-making behavior of Generation Z in online purchases’. https://malque.pub/ojs/index.php/mr/article/download/9421/4073/56738
- International Journal of Organizational and Digital Marketing (n.d.) ‘Exploring Gen Z consumers’ perceptions of social media marketing’. https://ijodm.dinamikapublika.id/index.php/IJODM/article/download/5/7/35
- Sustainability (2026) ‘Gen Z characteristics and sustainable consumption: Bridging the intention-behavior gap’. https://www.mdpi.com/2071-1050/18/11/5231
- Fashion and Textiles (2025) ‘Gen Z college students’ fashion consumption paradox’. https://link.springer.com/article/10.1186/s40691-025-00442-x
- Journal of Economics and Management (2024) ‘Generation Z’s perception of privacy on social media’. https://journals.economic-research.pl/oc/article/view/2956
- Future Business Journal (2024) ‘The hidden reasons behind Generation Z’s green choices’. https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s43621-024-00764-8.pdf
- International Journal of Social Science Research and Review (n.d.) ‘The privacy paradox in personalised advertising’. https://ijssrr.com/journal/article/download/2822/1996/
B. Pembuat konten, Kredibilitas Sumber, dan Hubungan Parasosial
- Barari, Eisend dan Jain (2025) ‘A meta-analysis of the effectiveness of social media influencers’, Springer. https://link.springer.com/article/10.1007/s11747-025-01107-3
- Taylor & Francis Online (2025) ‘Cross-cultural analysis of influencer marketing: Meta-analysis and meta-regression of factors and effects’. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10641734.2025.2529006
- Han dan Balabanis (2024) ‘Meta-analysis of social media influencer impact: Key antecedents…’, Wiley Online Library. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/mar.21927
- International Journal of Consumer Studies (2026) ‘Influencer authenticity in marketing: A systematic literature review’. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ijcs.70258
- Babu, Joseph, dan Aboobaker (2024) ‘Unveiling the impact of influencer attributes on purchase intention of Gen Z: The moderating role of parasocial interaction’, South Asian Journal of Business Studies. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/09721509241280996
- Communica (2025) ‘The mediating role of parasocial interaction in influencer marketing among Gen Z’. https://journal.idscipub.com/index.php/communica/article/view/781
- Journal of Consumer Marketing (2026) ‘Influencer marketing and purchase intentions among Generation Z’. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13527266.2026.2667896
- Universitas Indonesia Library (n.d.) ‘Pengaruh pemasaran influencer terhadap niat beli generasi Z’. https://lib.ui.ac.id/detail?id=20522578&lokasi=lokal
- Communica (2024) ‘The power of parasocial interaction: Relatability, trust, and ethical engagement in short-form video marketing’. https://journal.idscipub.com/index.php/communica/article/view/783
- Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen (n.d.) ‘Kajian autentisitas, relatability, dan kecocokan influencer pada trust dan niat beli’. https://journal.unpas.ac.id/index.php/jrbm/article/download/28179/23321
- Springer (2026) ‘From humor to engagement: The social-relational mechanism of…’. https://link.springer.com/article/10.1057/s41299-026-00263-8
- Academy of Business and Retail Management (n.d.) ‘Parasocial relationship, customer equity, and purchase intention’. https://www.abacademies.org/articles/parasocial-relationship-customer-equity-and-purchase-intention-13841.html
- OhioLINK ETD (n.d.) ‘Exploring the intersection of parasocial relationships’. https://etd.ohiolink.edu/acprod/odb_etd/ws/send_file/send?accession=ouhonors1745330789955923&disposition=inline
C. Bukti Sosial, Ulasan, dan Konten Buatan Pengguna
- IConEnt (2025) ‘Trust, online reviews, and ratings as drivers of purchase intention among Generation Z’. https://ojs.uph.edu/index.php/IConEnt/article/view/10644
- UIN Malang (n.d.) ‘Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian Gen Z di marketplace’. https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/download/20588/6841/
- DRPEHSS Journal (n.d.) ‘How user-generated content impacts the customer behavior of…’. https://drpehss.org/index.php/ojs/article/download/69/56/110
- SCIRP (n.d.) ‘A systematic review of research from 2020 to 2025’. https://www.scirp.org/pdf/als_2821294.pdf
- Athens Journal of Mass Media and Communications (2025) ‘How user-generated content shapes brand authenticity and consumer responses’. https://www.athensjournals.gr/media/2025-6599-AJMMC-MED-Younis-02.pdf
- Egyptian Knowledge Bank (n.d.) ‘The influence of Instagram reviews on purchase intention’. https://journals.ekb.eg/article_437257_e34c0cc74132d8688af16a6eb9f025b3.pdf
- Jurnal PARS (n.d.) ‘The influence of influencer advertising on Gen Z consumer behavior’. https://ejurnal.ubharajaya.ac.id/index.php/PARS/article/download/4749/2657/14424
D. Reaksi atas Iklan, Rasa Kendali, dan Kelangkaan
- Future Business Journal (2026) ‘Intrusive, irritating, ignored: Understanding Gen Z’s resistance to in-stream advertising’. https://link.springer.com/article/10.1186/s43093-026-00798-6
- Kantar (n.d.) ‘Age is just a number: How brands can connect with Gen Z’. https://www.kantar.com/inspiration/advertising-media/age-is-just-a-number
- Riedel, Weeks, dan Beatson (2024) ‘Dealing with intrusive ads: A study of which functionalities…’, Taylor & Francis Online. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/02650487.2023.2197778
- Khurana dan Mehra (n.d.) ‘The psychology of scarcity: Examining the influence of FOMO’, International Journal of Scientific Research. https://www.ijsr.net/archive/v15i8/SR26825123947.pdf
- Duong dkk. (2025) ‘From scarcity to purchase: Psychological mechanisms influencing Gen Z impulsive buying’, Innovative Marketing. https://businessperspectives.org/journals/innovative-marketing/issue-502/from-scarcity-to-purchase-psychological-mechanisms-influencing-gen-z-impulsive-buying
- Frontiers in Communication (2026) ‘Sponsored advertising on social media and purchase intention’. https://www.frontiersin.org/journals/communication/articles/10.3389/fcomm.2026.1876021/full
- Kantar (2025) ‘Marketing trends 2025’. https://www.kantar.com/campaigns/marketing-trends-2025
- EHSS (n.d.) ‘The research of how perceived ads intrusiveness of social media…’. https://drpress.org/ojs/index.php/EHSS/article/download/28572/28055
E. Personalisasi, Privasi, dan Segmentasi Audiens
- Saha dkk. (2024) ‘Influence of personality traits on Generation Z consumers’ click-through intentions towards personalized advertisements: A mixed-methods study’, Heliyon, 10. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39144948/
- McKee, Dahl, dan Peltier (2024) ‘Gen Z’s personalization paradoxes: A privacy calculus perspective’, Journal of Consumer Behaviour. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/cb.2199
- Frontiers in Communication (2026) ‘Privacy perceptions of urban and educated Indian Gen Z…’. https://www.frontiersin.org/journals/communication/articles/10.3389/fcomm.2026.1787042/full
F. Purpose, Keberlanjutan, dan Keaslian Merek
- Sustainable Development (2025) ‘The influence of social media advertising on sustainable purchase intention’. https://link.springer.com/article/10.1007/s43621-025-01820-7
- Del Olmo Arriaga dkk. (2025) ‘From fast fashion to shared sustainability: The role of digital communication, social media, and peer influence’, Sustainability, 17(18), 8382. https://www.mdpi.com/2071-1050/17/18/8382
- Ashwini dan Moodbidri (2026) ‘Trust-enabled drivers of Gen Z consumers’ willingness to pay for sustainable packaging’, Frontiers in Sustainability. https://www.frontiersin.org/journals/sustainability/articles/10.3389/frsus.2026.1762826/full
G. Ukuran Pasar dan Konteks Indonesia
- Antara (2020) ‘BPS: Penduduk Indonesia didominasi generasi Z dan milenial’. https://www.antaranews.com/berita/1960808/bps-penduduk-indonesia-didominasi-generasi-z-dan-milenial
- Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (2020) ‘Hasil Sensus Penduduk 2020: BPS, meski lambat, ada pergeseran penduduk antarpulau’. https://setkab.go.id/hasil-sensus-penduduk-2020-bps-meski-lambat-ada-pergeseran-penduduk-antarpulau/
- BPS, Sensus Penduduk 2020 (2020) ‘Jumlah penduduk menurut wilayah, klasifikasi generasi, dan jenis kelamin’. https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2020/2/14/0
- Index Copernicus (n.d.) ‘Kajian live commerce Gen Z Jabodetabek: fitur teknologi, nilai, dan relationship quality’. File lengkapnya, yaitu https://journals.indexcopernicus.com/api/file/viewByFileId/2055980
- Google, Think with Google (2024) ‘Ramadan 2024: Indonesia consumer insights’. https://www.thinkwithgoogle.com/intl/en-apac/consumer-insights/consumer-trends/ramadan-2024-indonesia-consumer-insights/
- DataReportal (2026) ‘Digital 2026: Indonesia’. https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia
- DataReportal (2025) ‘Digital 2025: Indonesia’. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
- Google, Think with Google (n.d.) ‘How well does your brand know Gen Zs in Southeast Asia?’. https://www.thinkwithgoogle.com/intl/en-apac/consumer-insights/consumer-trends/genz-search-behaviour-sea/
- Google, Think with Google (2024) ‘Consumer insights for successful Ramadan 2024 campaigns’. https://www.thinkwithgoogle.com/_qs/documents/18390/winning_ramadan_2024_playbook.pdf
- Indonesian Journal of Islamic Economics Research, 6(2) (2024) ‘Live shopping, social commerce, dan niat beli Gen Z perempuan Muslim di Medan’. https://ejournal.uinsalatiga.ac.id/index.php/ijier/article/download/2495/467/8989
- JISOH (n.d.) ‘Pengaruh kredibilitas influencer dan fitur live shopping terhadap…’. https://indojurnal.com/index.php/jisoh/article/view/4365
- IJECM (n.d.) ‘Gen Z’s behavior towards digital culinary brands on TikTok’. https://international.areai.or.id/index.php/IJECM/article/download/895/838
- DataReportal (n.d.) ‘Notes on data’. https://datareportal.com/notes-on-data
H. Perhatian, Media, dan Pengukuran Kampanye
- Sinch (n.d.) ‘Generational preferences for customer communication’. https://sinch.com/blog/generation-communication-preference/
- DMA UK (n.d.) ‘Investigating email: Younger audiences and email’. https://www.dma.org.uk/resources/report/investigating-email-younger-audiences-and-email
- EELET Journal (n.d.) ‘Evaluating the effectiveness of podcasts as a content marketing tool for brand awareness among millennials and Gen Z’. https://www.eelet.org.uk/index.php/journal/article/view/3624
- IAB (2024) ‘Podcasting in the creator economy: A long-term opportunity’. https://www.iab.com/wp-content/uploads/2024/08/IAB_Podcasting_In_The_Creator_Economy_Guide_August_2024.pdf
- GWI dan Gameloft (n.d.) ‘Why gaming earns Gen Z’s attention’. https://www.gwi.com/blog/why-gaming-earns-gen-zs-attention
- Gameloft (n.d.) ‘Games expand attention and emotional connection for brands’. https://www.gameloft.com/for-brands/news/games-expand-attention-and-emotional-connection-for-brands
- YouGov (n.d.) ‘Gamified ads in US: Gen Z leads in exposure and openness’. https://yougov.com/en-us/articles/53268-gamified-ads-in-us-gen-z-leads-in-exposure-and-openness
- McKinsey & Company (n.d.) ‘The young and the restless: Generation Z in America’. https://www.mckinsey.com/industries/retail/our-insights/the-young-and-the-restless-generation-z-in-america
- Deloitte (2025) ‘2025 digital media trends: Social platforms are becoming a dominant force in media and entertainment’. https://www.deloitte.com/us/en/insights/industry/technology/digital-media-trends-consumption-habits-survey/2025.html
- Deloitte (2025) ‘A competition for consumer attention: Are social platforms…’. https://www.deloitte.com/us/en/about/press-room/digital-media-trends-consumption-habits-survey.html
- Pew Research Center (2024) ‘Teens, social media and technology 2024’. https://www.pewresearch.org/internet/2024/12/12/teens-social-media-and-technology-2024/
- KEPO 126: Psikologi Promosi Ke Gen Z - October 21, 2026
- KEPO 124: Apa yang Dilakukan Oleh Bisnis yang Bertumbuh saat Krisis? - September 24, 2026
- Kenapa Marketer yang Taat Aturan di Meta Ads Jadi Spammer di Email? - June 18, 2026

