KEPO 123: Pertama Dalam Sejarah, Durasi Waktu Penggunaan di Media Sosial Turun, Bagaimana Meresponnya?

Bismillah…

Pernahkah Anda belakangan ini merasa lelah, jenuh, atau sekadar malas saat membuka layar handphone dan menatap beranda media sosial Anda?

Jika iya, Anda tidak sendirian.

Episode kali ini membahas sebuah fenomena yang sangat relevan dengan keseharian kita akhir-akhir ini. Sebuah titik balik di mana orang-orang mulai muak dengan konten-konten dangkal, dan mulai mencari sesuatu yang lebih bermakna.

Kepo KIRIM.EMAIL Podcast kali ini didukung oleh Buletin. Buletin adalah surat cinta untuk penulis non-fiksi.

Jika Anda ingin mulai menulis newsletter dan membangun list tapi belum mau pusing memikirkan teknis email automation seperti di KIRIM.EMAIL, Anda bisa ke buletin.co. Anda tidak perlu mikir teknis, tinggal nulis doang, gratis, dan Anda bahkan bisa mendapatkan subscriber berbayar dari tulisan Anda.

Seperti biasa artikel ini didukung oleh Kirim.Email, layanan email infrastructure untuk bisnis di internet. Gunakan kode kupon KEPO untuk diskon 10% semua layanan di Kirim.Email.

Anda juga bisa dengarkan melalui spotify atau aplikasi favorit Anda disini:

Dengarkan KIRIM.EMAIL Podcast di aplikasi favorit Anda sekarang

Selama belasan tahun terakhir, kita hidup dalam sebuah ilusi yang nyaman.

Ilusi bahwa grafik pengguna media sosial hanya tahu satu arah: naik.

Kita melihat Facebook, Instagram, dan TikTok merayakan pencapaian miliaran pengguna.

Setiap tahun, waktu yang kita habiskan untuk menatap layar handphone terus bertambah.

Apalagi populasi bumi terus bertambah. Logika sederhananya: semakin banyak manusia, semakin banyak yang scrolling media sosial, bukan?

Ternyata tidak.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah cuitan dari Greg Eisenberg yang mengutip data dari Financial Times dan lembaga riset GWI.

Laporan itu menyimpulkan sebuah fakta sejarah yang mengejutkan.

Fakta Bersejarah: Penurunan Penggunaan Media Sosial

Untuk pertama kalinya sejak internet ditemukan, waktu yang dihabiskan orang di media sosial secara global mengalami penurunan.

Turun. Bukan sekadar melambat, tapi benar-benar turun.

Greg merangkum fenomena raksasa ini ke dalam satu kalimat pendek yang sangat indah:

“Brain rot is out, meaning is in.”

Konten-konten dangkal yang merusak otak (brain rotsudah mulai ditinggalkan. Orang-orang kini mencari makna (meaning).

Mungkin Anda berpikir penurunannya kecil.

Memang, secara global rata-rata turun “hanya” sekitar 12 menit per hari.

Tapi ingat, ini adalah rata-rata miliaran penduduk bumi selama beberapa tahun terakhir. Ini bukan anomali sesaat, melainkan sebuah tren pergeseran perilaku yang masif.

Ironi Gen Z: Pemimpin “Eksodus” Digital

Lalu, siapa yang memimpin gerakan meninggalkan media sosial ini?

Bukan generasi Boomer yang gaptek.

Bukan generasi Millennial seperti saya yang masa kecilnya masih main layangan di lapangan.

Gerakan ini justru dipimpin oleh Gen Z.

Generasi digital native yang sejak lahir sudah disodori layar sentuh.

Survei menunjukkan angka yang sangat ironis: 81% dari mereka berharap bisa putus hubungan dari perangkat digital mereka.

Bahkan, lebih dari separuh Gen Z mendukung jika media sosial dilarang untuk anak di bawah 16 tahun.

Generasi yang paling banyak terpapar media sosial, ternyata menjadi generasi yang paling muak.

Mereka adalah yang paling ingin melepaskan diri darinya.

Mengapa Kita Semua Mulai Lelah?

Kenapa mereka muak? Karena mereka capek. Kita semua capek.

Ada dua jenis kelelahan besar yang sedang terjadi:

Pertama, Platform Fatigue (Kelelahan Platform).

Kita kewalahan dihantam aliran konten tanpa henti. Algoritma semakin hari semakin aneh dan tidak relevan.

Semakin sering kita scrolling, rasanya semakin tidak ada yang menarik.

Apalagi sekarang lini masa kita dipenuhi gambar dan tulisan kaku buatan AI. Semuanya terasa sintetisKehilangan roh manusianya.

Kedua, Social Fatigue (Kelelahan Sosial).

Interaksi kita di internet perlahan berubah menjadi transaksi palsu.

Kita bertukar Like dan komentar basa-basi yang sebenarnya kosong.

Pada akhirnya, semua ajang pamer dan perbandingan sosial itu hanya memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan merampas kedamaian mental kita sendiri.

Apa Artinya Ini Bagi Bisnis Anda?

Sebagai seorang pebisnis atau marketer, apa arti semua data ini untuk kita?

Artinya, masa-masa bulan madu sudah selesai.

Masa di mana kita bisa mengejar pertumbuhan follower yang gila-gilaan hanya dengan mindless content (konten tanpa mikir) berdurasi 2 detik sudah lewat.

Masa di mana kita sengaja membuat orang marah (ragebait) hanya demi mendapatkan engagement dan komentar, sudah usang.

Orang sudah muak. Reputasi brand Anda yang akan jadi korbannya.

Arah angin telah berubah.

Orang mulai mencari konten yang punya kedalaman.

Mereka mencari artikel berformat panjang yang ditulis dengan hati. Mereka mendengarkan podcast berjam-jam yang dibuat dengan niat.

Kembali ke “Makna”: Bangun Email List Anda

Kerinduan manusia modern terhadap “makna” sedang berada di titik tertingginya.

Dan jika kita bicara tentang membangun hubungan yang mendalam, terarah, dan bermakna dengan audiens di dunia maya…

Kita kembali ke satu hal fundamental yang selalu saya sampaikan sejak KIRIM.EMAIL pertama kali berdiri.

Bangunlah email list Anda.

Email adalah antitesis dari media sosial.

Email itu sunyi, personal, dan intim.

Tidak ada mindless scrolling di kotak masuk email. Seseorang membuka dan membaca sebuah email dengan niat yang utuh.

Di email, tidak ada algoritma abu-abu milik miliarder teknologi yang membatasi jangkauan Anda ke audiens Anda sendiri.

Menulis email bukan tentang mencari Like atau memicu perdebatan. Menulis email adalah menulis dari hati. Dari satu manusia, untuk manusia lainnya.

Ini adalah momentum terbaik bagi Anda untuk mulai beralih.

Menjauh dari keramaian semu, dan mulai membangun ruang diskusi Anda sendiri.

Mulai dari Mana?

Mulai saja dari Buletin.co.

Seperti yang saya sebutkan di awal, Anda tinggal nulis. Tidak perlu pusing setting ini-itu. Gratis. Buletin hanya akan mengambil fee jika Anda sudah punya subscriber berbayar. Kalau tidak, ya gratis. Kita hanya sukses kalau Anda sukses.

Nanti, ketika subscriber Anda sudah banyak dan butuh otomasi yang lebih advanced

Tinggal one-click sinkronisasi ke KIRIM.EMAIL. Gampang.

Dunia perlahan mulai menutup aplikasi media sosial mereka dan mencari tempat berlabuh yang baru.

Pastikan saat mereka mencari makna, mereka menemukannya di tulisan-tulisan Anda.

Pilihan platform ada di tangan Anda. Tapi apa pun yang Anda gunakan, bangunlah email list Anda. Tidak ada kata terlambat.

Sampai ketemu di episode selanjutnya. Insya Allah.

Fikry.

Daftar Referensi:

Fikry Fatullah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *