mengandalkan nama baik

Mengandalkan Nama Baik

Bismillah…

Mungkin seperti Anda, dulu, awalnya, saya berhasil memenangkan hati pelanggan saya “hanya” melalui nama dan hubungan baik saya ke beberapa orang.

Biasanya ceritanya seperti ini:

Seorang pebisnis menjual sebuah produk, lalu orang-orang pertama yang membeli produk dari pebisnis tersebut adalah orang-orang yang kenal dekat dengannya. Saat itu, walaupun kualitas produknya jelek sekali, biasanya mereka tetap akan membeli, “coba-coba“, itu alasannya. Inilah mungkin kenapa orang yang namanya baik dan terkenal, cukup mudah untuk jualan.

Saya juga begitu waktu membangun KIRIM.EMAIL. Pengguna-pengguna pertamanya adalah kolega terdekat saya. Saya beneran kenal dengan mereka, mereka sering ke rumah saya, makan bareng, dll.

Sampai akhirnya, setelah berjalannya waktu, orang-orang dekat yang menggunakan KIRIM.EMAIL dengan alasan karena awalnya mereka, mungkin, “kasihan” dengan saya, satu persatu mulai berhenti menggunakan.

Saat ditanya ya tentu saja jawabannya untuk menenangkan hati saya, seperti:

saya masih belum ada waktu mas.

Atau sesuatu seperti itu.

Mereka teman-teman yang baik, namun saya bisa menangkap pesan tersirat dari jawaban-jawaban yang mereka berikan ke saya.

Intinya:

Produk kami tidak bernilai di mata mereka.

Atau dengan kata lain: Produknya jelek.

Karenanya produk tersebut tidak berhasil memberikan manfaat yang baik ke pembelinya.

Tapi ya lagi, sebagai teman yang baik, mungkin mereka cendrung tidak enakan mengatakannya.

mengandalkan nama baik

Hingga akhirnya, disebuah buku, saya membaca satu kalimat yang menyadarkan saya. Kalimat tersebut kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kira-kira seperti ini:

Pada akhirnya sebuah bisnis harus belajar untuk menang dengan membangun value (nilai), bukan (hanya) dengan hubungan baik.

Saya berhenti cukup lama setelah membaca kalimat itu. Rasanya seperti tersambar petir di hari yang cerah.

Lalu, saya ulangi lagi membacanya:

Pada akhirnya sebuah bisnis harus belajar untuk menang dengan membangun value, bukan dengan hubungan baik.

 

Akhirnya saya tersadar. Teman-teman saya adalah teman-teman yang baik, mereka dengan senang hati mencoba membeli produk saya, namun saya belum menjadi teman yang baik bagi mereka karena produk saya tidak memberikan nilai bagi mereka.

Mereka terpaksa menggunakannya, karena mungkin saya yang meminta. Pada akhirnya, bisnis adalah tentang men-deliver value, memindahkan nilai dari sebuah bisnis ke pelanggannya.

Hubungan baik ke pelanggan menurut saya hanya menjadi penting setelah nilai itu terkirim ke pelanggan, atau mereka sudah merasakan manfaatnya. Seseorang baru akan peduli ke sebuah bisnis, jika ia sudah merasakan manfaat dari produk yang dimiliki bisnis tersebut.

Dan sebaliknya. Sebagus apapun hubungan pemilik bisnis dengan pelanggannya, pada akhirnya mereka akan berhenti menjadi pelanggan karena tidak menemukan value atau nilai dari produk/ bisnis tersebut untuk mereka.

Ini seperti hubungan satu arah, Cinta bertepuk sebelah tangan. Dan pelanggan dari bisnis tersebut akhirnya lelah menjaganya. Pada akhirnya sebuah bisnis harus belajar untuk menang dengan membangun value, bukan dengan hubungan baik.

Facebook Comments