Episode 45 – Risiko Membangun Tim Jarak Jauh (Remote)

Selamat datang kembali di KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast bersama saya Fikry Fatullah. Episode ini adalah episode ke 45 dan saya mengambil judul Risiko Membangun Tim Jarak Jauh (Remote).

Sebagaimana yang sering saya bilang di berbagai kesempatan, bahwa saat ini KIRIM.EMAIL menggunakan sistem kerja secara remote. Artinya tidak ada kantor yang kami gunakan untuk bekerja dan sesama tim tidak saling bertemu secara langsung.

Terkait bagaimana kami bekerja secara remote Anda bisa mendengarkan KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast di Episode 5 (http://kepo.blog/5).

Lalu terkait bagaimana kami mengukur kinerja tim secara remote Anda bisa mendengarkan KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast Episode 43 (http://kepo.blog/43).

Dan di episode kali ini saya ingin membahas tentang apa saja risiko membangun tim jarak jauh (remote). Karena biarpun kita kerja remote, risiko itu tetap ada.

Apa saja risikonya? Silakan download dan dengarkan KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast Episode 45 berikut ini.

[03:40 Kabur] [08:18 Perkerjaan yang tidak terkontrol] [11:58 Interaksi manusia] [14:12 Kesepian] [16:24 Tidak ada tempat kerja yang bagus] [19:45 Miskomunikasi] [22:50 Leadership] [25:27 Hidden Benefit]

Risiko Membangun Tim Jarak Jauh (Remote)

Risiko 1 : Kabur

Sejak 2016 hingga hari ini secara official baru 1x terjadi kabur. Saya pribadi ini tidak menganggap sebagai risiko yang begitu penting. Karena ya jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan yang keluar masuk di KIRIM.EMAIL yang kalau ditotal sudah ada 100 orang. Beberapa yang dipecat ada, tetapi kebanyakan keluar secara baik-baik.

Kemudian kalau kaburnya bawa aset perusahaan bagaimana?

Yang pertama, belum pernah kejadian karena yang kabur itu Alhamdulillah tidak bawa apa-apa. Tetapi bagi saya, maling adalah maling dimanapun dia berada. Saat seorang maling masuk perusahaan, dia tahu segalanya tentang kantor. Kapan kantor sepi, kapan kantor ramai dan lain sebagainya. Sehingga baik remote ataupun tidak remote juga akan tetap maling.

Untuk mengatasi hal ini kita punya penengah yaitu pihak kepolisian. Kalau tidak bisa kekeluargaan maka dengan cara hukum. Selain itu di awal rekrutmen kami meminta salinan KTP atau SIM dan membuat surat perjanjian untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini.

Risiko 2 : Pekerjaan yang tidak terkontrol

Ini sebenarnya sudah saya jawab di KEPO 43. Namun saya jelaskan lagi di sini tidak apa.

Kita tidak bisa selalu menuntut orang (manusia) dalam kondisi terbaiknya. Ada waktu-waktu dimana dia mengalami penurunan kinerja. Seperti moodnya sedang tidak bagus, sedang ada masalah keluarga, dan lain sebagainya.

Kalau saya pribadi saya akan mentolerir hal ini. Selama kondisinya tidak darurat dan urgent bukan masalah buat saya. Karena jika kita selalu menuntut untuk kinerja yang bagus bisa-bisa malah membuat keadaan semakin tidak bagus.

Sehingga risiko ke dua ini lebih tepatnya bukan pekerjaan yang tidak terkontrol. tetapi mood dan semangat kerja yang kadang naik turun.

Risiko 3 : Interaksi Manusia

Menurut saya risiko terbesar dari kerja remote adalah hilangnya interaksi antar manusia yang sifatnya non verbal. Komunikasi itu ada banyak cara, salah satunya adalah bahasa tubuh. Ini yang tidak bisa kita lihat dan rasakan di kerja remote.

Tetapi untung tim di KIRIM.EMAIL tidak ada masalah dengan hal ini. Dan lagi saya kerja remote itu adalah life style.

Risiko 4 : Kesepian

Di kerja remote kesepian menjadi issue utama. tetapi entah kenapa saya pribadi tidak merasakannya. Entah karena anak saya 3 dan istri saya enak diajak ngrobrol saya merasa tidak pernah kesepian. dan juga di tim saya juga tidak merasa kesepian karena di rumahnya ada keluarga.

Kalau Anda kerja remote dan merasa kesepian, silakan berbagi cerita ke saya dengan mengirimkan email ke fikry@kirim.email. Saya ingin mendengar cerita Anda.

Risiko 5 : Tidak ada tempat kerja yang bagus

Ada beberapa rumah yang memang tidak nyaman untuk dipakai buat bekerja. Contohnya seperti masih tinggal bersama orang tua yang kalau mau setup ini itu kadang tidak diperbolehkan, tidak ada ruangan khusus sehingga mudah terinterupsi oleh anggota keluarga lain, dan lain sebagainya.

Terkait interupsi ini di kantor pun juga banyak interupsi. Namun ketika kita kerja di rumah secara remote, interupsi ini bisa lebih mudah kita kontrol. Caranya adalah dengan memberikan pemahaman kepada anggota keluarga yang lain untuk tidak “mengganggu” dulu ketika saya bekerja. Kalau saya sudah menutup pintu ruang kerja sama, maka yang anggota keluarga saya sudah paham.

Selain itu bekerja secara remote tidak harus di rumah. Ada tempat lain yang bisa kita pakai untuk bekerja, misalnya di co-working space, di cafe, di perpustakaan, dan lain sebagainya.

Risiko 6 : Miskomunikasi

Kalau di KIRIM.EMAIL missed komunikasi ini Alhamdulillah sangat jarang terjadi. Saya sampai heran sendiri, padahal bekerja secara remote yang tidak saling bertatap muka, potensi untuk terjadi miskomunikasi sangat tinggi.

Mungkin ini penyebabnya adalah karena di KIRIM.EMAIL komunikasinya hanya ada di satu tempat saja, yaitu Basecamp. Ketika ada tim yang telat gabung, dia tinggal baca lagi dari atas terkait topik yang sedang dibahas.

Kalau kita pakai group chat, ini justru malah rawan miskomunikasi. Karena untuk mengikuti suatu topik di grup chat, harus scroll panjang sekali.

Jadi metode asyncronus communication yang kami terapkan di KIRIM.EMAIL justru lebih efektif karena sudah terbukti selama 3 tahun terakhir. Dan lagi metode asynchronous communication tidak harus dipakai oleh yang kerja remote saja. Yang kerja kantoran juga bisa menggunakan metode asynchronous communication ini. Namun untuk yang kerja remote mau gak mau pakai metode asynchronous communication.

Risiko 7 : Leadership

Leadership kerja di kantor dengan leadership kerja remote itu sangat terasa perbedaannya. Kalau di kantor kita bisa menunjukkan pada bawahan kita secara langsung.

Contoh kecilnya menunjukkan keteladanan di dalam disiplin jam kerja. Bos kalau ingin tim nya tidak telat maka dia bisa menunjukkan secara langsung kalau dia juga bisa tidak telat. Juga terkait dengan gesture, nada bicara dan lain sebagainya.

Tetapi di kerja remote tidak bisa seperti itu. Namun bukan berarti ini tidak bisa diatasi. Kita bisa mengatasi risiko leadership ini dengan bantuan video call.

Hidden Benefit

Selain benefit kerja remote yang saya sebutkan di atas, yaitu dengan asynchronous communication kita bisa bekerja dengan lebih efektif, ada keuntungan tersembunyi lainnya dari kerja remote dan ini khas banget, mungkin hanya ada di Indonesia.

Saya melihat di depan saya sendiri. Di Indonesia umumnya pasangan baru yang baru punya anak, mereka berdua bekerja, anaknya yang masih bayi dititipkan ke orang tuanya. Dan ini kadang menimbulkan gesekan di antara keluarga tersebut, ya meskipun tidak selalu seperti itu.

Kalau di negara barat, biarpun suami dan istri bekerja, mereka menitipkan anaknya ke daycare, buka ke orang tuanya (nenek/kakek si bayi).

Saya melihat kerja remote adalah sebuah solusi untuk hal ini. Saya tidak bilang ini adalah solusi sempurna, tetapi paling tidak dengan kerja remote, si anak bisa setiap hari dikelilingi oleh kedua orang tuanya.

Seperti itu KEPO-KIRIM.EMAIL Podcast Episode ke 45 ini dengan judul risiko membangun tim jarak jauh (remote). Saya Fikry Fatullah, silakan kunjungi KIRIM.EMAIL dan sampai bertemu di episode berikutnya.

Dengarkan KEPO – KIRIM.EMAIL Podcast Langsung Dari HP Anda

Agar tidak ketinggalan update episode terbaru KEPO – KIRIM.EMAIL Podcast, Anda bisa men-download dan mendengarkannya langsung melalui HP Anda, caranya:

Facebook Comments