Ada Apa Di Balik PHK Massal Startup Indonesia?

Di akhir Mei 2022 ini, Kita dikejutkan dengan banyaknya PHK yang dilakukan oleh startup besar, sebut saja Zenius, JD.ID, LinkAja dan SiCepat. 

Mengutip dari DetikFinance, Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, secara umum PHK besar-besaran terjadi di startup karena dua sebab.

“Pertama mereka ingin melakukan restrukturisasi karena ada skenario bisnis. Yang kedua, memang pencapaian kinerja lagi kurang bagus sehingga mereka melakukan efisiensi,” katanya kepada detikcom. 

Sebelum mengambil langkah PHK besar-besaran, lazimnya startup yang sedang mengalami penurunan kinerja itu telah berupaya melakukan perubahan, namun tidak ada hasil. Maka skenario yang diambil adalah PHK.

Pendanaan Startup Mengkhawatirkan

Terlepas apapun penyebabnya, model bisnis dan pendanaan (investasi) startup ini sebenarnya sudah lama menjadi kekhawatiran banyak pihak, salah satunya founder KIRIM.EMAIL, Fikry Fatullah. 

Jauh sebelum PHK besar-besaran ini terjadi, Fikry melalui Podcastnya Radio KBO, di episode yang berjudul Investasi Bukan Prestasi, menyampaikan bahwa model bisnis startup yang ada saat ini fokusnya adalah bagaimana mendapatkan pendanaan, bukan tentang bagaimana menghasilkan profit. 

Dengan mendapatkan pendanaan, nantinya akan mereka gunakan untuk mendapatkan pengguna sebanyak mungkin dalam waktu singkat.

Dengan kata lain mereka mengutamakan pertumbuhan akuisisi pengguna daripada pertumbuhan profit. Yang penting penggunanya banyak dulu, monetisasinya urusan belakangan. 

Sebagai contoh Gojek. Kita anggap tarif ojek normalnya adalah Rp10.000 per 10 KM. Setelah mendapatkan pendanaan senilai ratusan miliar, Gojek mengalokasikannya untuk berpromosi secara gencar dan sebagian yang lainnya untuk mensubsidi tarif ojek. 

Sehingga dari tarif normal yang Rp10.000, pengguna Gojek hanya perlu membayar katakanlah Rp2.000 saja per 10 KM. Dari sini drivernya tetap mendapatkan haknya, pengguna membayar dengan harga yang jauh lebih murah, uang investor habis untuk subsidi. 

Walaupun Gojek tidak mendapatkan profit dari transaksi yang terjadi, tetapi mereka mendapatkan pertumbuhan pengguna yang fantastis. 

Pertumbuhan pengguna inilah yang akan dijadikan sebagai penawaran untuk mendapatkan investor berikutnya, yang jumlah pendanaanya akan jauh lebih besar dari sebelumnya.

User Tumbuh Pesat, Neraca Keuangan Rugi Besar

Setelah itu banyak startup yang meniru model bisnis yang dilakukan oleh Gojek. Hasilnya banyak pemberitaan tentang startup lokal yang mendapatkan pendanaan sekian ratus milyar. Dan anehnya, banyak yang bangga dengan status pendanaan ini. 

Namun disisi lain, banyak dari startup itu, neraca keuangannya menunjukkan negatif alias masih banyak yang mengalami kerugian. Jumlah penggunanya banyak, tetapi masih menanggung kerugian yang banyak juga. Sangat ironis memang. 

Ketika tidak ada lagi pendanaan yang masuk, maka tidak mengherankan jika saat ini banyak bisnis startup yang berguguran, bahkan belum sempat mendapatkan profit sepeserpun, apalagi menikmatinya. 

Sebagian lagi masih bertahan dengan melakukan perubahan bisnis model dan melakukan efisiensi, salah satunya ya dengan melakukan PHK massal, seperti yang saat ini terjadi. 

Investasi bukan prestasi

Jadi, menurut Kami mendapatkan pendanaan itu bagus dan sah-sah saja. Tetapi yang jauh lebih penting adalah mendapatkan profit dari proses bisnis yang dijalankan. Mengakuisisi pembeli atau user secara alami, akan membuat bisnis bertahan lebih lama. 

Akhirnya, ada sebuah nasihat yang bisa kita renungkan bersama. Bahwa investasi itu bukan prestasi, tetapi investasi itu adalah amanah dan investasi terbaik adalah dari konsumen.

Ada Apa Di Balik PHK Massal Startup Indonesia? - 1

Leave a Comment

Your email address will not be published.